BATIK FRACTAL: Batik Cantik Hasil Matematika (Bagian II)

ilustrasi

BANDUNG (bisnis-jabar) – Software jBatik sendiri hadir untuk memudahkan para pengrajin atau perancang bahkan awam untuk menghasilkan desain-desain batik baru. Pemakai cukup memasukkan rumus-rumus fraktal dan membiarkan komputer bekerja menghasilkan motif batik. Kemudahan juga diberikan bagi awam lewat pendekatan yang sama.

Piksel menjual software ini awalnya dengan harga minimum Rp500.000. “Kini software per kopinya Rp300.000, ada tambahan pelatihan juga,” kata CEO CV Piksel Indonesia Nancy Margried. Tak hanya menawarkan software Piksel juga membarenginya dengan produk jadi kategori gold dengan label Batik Fractal.

Menurut Nancy, pihaknya dihadapkan pada dua konsumen yang berbeda, antara yang hanya membeli softwarenya dengan mereka yang gandrung membeli produk jadi. “Kita memperkenalkan sebuah alat harus menunjukan dengan produk jadinya,” papar perempuan berusia 32 tahun ini.

Batik kategori gold menurutnya dibuat untuk menyasar konsumen hi-end. Produk kategori ini rupanya kurang memiliki pasar yang luwes dan terbatas karena harganya yang kelewat mahal. “Banyak sekali permintaan untuk produk dengan harga yang lebih murah,” katanya. Desakan dari konsumen membuat Piksel tahun ini meluncurkan batik fraktal kategori white yang diproduksi massal dan ready to wear.

Untuk komersialisasi, Piksel saat ini sudah memasuki online store melalui sejumlah website seperti multiply. Awal Juli ini rencananya outlet pertama akan berdiri di Kuta, Bali. Menurut Nancy, Bali terpilih ketimbang Jakarta dan Bandung karena karakteristik konsumen Bali dalam berbusana jauh lebih santai. “Orang Jakarta lebih ingin profesional look, desainya lebih ke urban,” katanya pada bisnis.

Dari hasil penjualan Batik Fractal White dan Gold serta software jBatik, Pixel Indonesia meraup pendapatan sebesar US$70.000. “Batik menyumbang 60% pada total revenue. Komposisinya dari white label 70, gold 30,” kata Nancy. Pihaknya mempekerjakan sekitar 200 pengrajin batik outsourcing di sentra batik Cirebon dan Pekalongan. Untuk satu model batik handmade dalam sebulan dihasilkan 50 lembar kain batik model yang sama.

Sampai saat ini sudah lebih dari 600 pengrajin batik mendapatkan pelatihan mengenai batik fraktal. Dalam catatan Piksel, saat ini sudah ada 400 orang pengrajin yang memakai  software jBatik. “Tahun ini sampai tahun depan sosialisasi pemasaran akan lebih agresif,” katanya.

Kontroversi Batik

Masih muda datang menawarkan produk baru di tengah “kenyamanan” produk tradisional membuat kehadiran batik fraktal menuai pro kontra. Software jBatik dianggap merusak motif batik tradisional yang sudah melekat di sejumlah daerah. Padahal menurut Nancy sejak awal pihaknya tidak meniatkan diri untuk merusak batik tradisional.

“Fakta batik tradisional untuk menjaga pakem dan desain sebagai warisan budaya Indonesia itu harus ada yang mengerjakannya, tapi its not our part,” kata Nancy. Piksel Indonesia menghadirkan batik fraktal adalah sumbangsih peran mereka dalam bentuk inovasi desain batik untuk masa depan.

Menurutnya saat batik fraktal hadir pihaknya berhadapan dengan mental imej semua orang Indonesia yang memandang desain batik tidak bisa diutak-atik. “[Desain] batik ya seperti itu, ketika ada pergolakan dari orang Indonesia sendiri, kan [kami] dianggap seperti musuh,” katanya. Beruntung ketekunan mereka dalam mengkampanyekan hal ini lambat laun membuat kontroversi makin menipis.

Piksel juga menjalin kerjasama dengan desainer atau pengrajin batik besar untuk lebih memperkenalkan desain batik fraktal. Pada 2008-2009 misalnya, mereka bekerja sama dengan desainer kenamaan Era Sukamto juga dengan Batik Komar sebagai co brand.

Kini pesanan untuk Batik Fractal sendiri sudah datang dari seluruh daerah di Indonesia. Bahkan luar negeri. “Dari luar sangat luar biasa, mereka tertarik dari segi inovasi produk. Pasar Eropa bahkan sangat siap [menerima produk] karena dari sisi style sudah sama, seleranya juga sama,” kata Nancy. Luki menambahkan, produk mereka sudah terjual di Malaysia, Australia hingga Swiss.

Menurut Nancy, pesanan dari Amerika juga sudah datang, namun terkendala harga logistik yang tidak sebanding dengan harga produk. “Logistiknya agak susah untuk harga baju yang tidak terlalu mahal,” katanya. Kondisi ini membuat sejumlah pesanan dari Amerika batal dilanjutkan.

Mereka juga sudah mengembangkan software jBatik sampai 8 turunan produk yang akan diluncurkan dalam beberapa tahun ke depan. “Nantinya software ini bisa masuk ke sosial media dan games,” Nancy sedikit membocorkan. Piksel Indonesia sendiri berencana mendirikan sejumlah training center di seluruh Indonesia. (ajz)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X