Batik Jabar siap lawan produk impor

antara

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Jawa Barat siap memperkuat produk batik lokal di pasar domestik guna mengangkat kekayaan batik khas daerahnya yang memiliki kualitas unggul serta mengikis batik impor yang menjamur di pasar.

Ferry Sofwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mengatakan pebatik jangan tergiur dengan pasar ekspor yang menjanjikan nilai transaksi besar.

Secara kualitas, dia mengakui, batik Jabar mampu memenuhi selera pasar internasional. Namun selama ini, mayoritas transaksi dengan buyers pun tidak dilakukan di Jabar atau dengan pebatik langsung, melainkan melalui Pasar Tanah Abang.

“Ekspor batik ini volumenya kecil, tapi nilainya besar. Sayangnya, kami belum mengetahui berapa nilai pastinya. Di pasar sendiri, potensinya sudah terukur dan nilai transaksi pun sudah terekam,” katanya di sela-sela pameran Ragam Pesona Batik Jawa Barat, kemarin.

Di pasar lokal, lanjutnya, transaksi batik sudah melampaui Rp25 miliar per bulan. Bahkan, ketika menjelang Idulfitri, nilai transaksi bisa naik hingga dua kali lipat. Nilai transaksi batik di Jabar meningkat sekitar 20% pada tahun ini dan diperkirakan terus membesar pada tahun depan.

“Potensi pasar lokal tergolong besar, lihat saja jumlah pegawai negeri sipil di Jabar sebanyak 15.000 orang, mereka menggunakan batik dua kali seminggu, dan tidak terpatok pada seragam batik. Belum lagi karyawan swasta dan anak sekolah yang juga potensinya menggiurkan,” jelasnya.

Komarudin Kudiya, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mengungkapkan permintaan batik di pasar lokal pada 2011 membaik seiring dengan gencarnya program pameran batik dan tumbuhnya sentra-sentra batik baru.

Untuk pasar batik 2012, dia memprediksikan terjadi pertumbuhan sebesar 10%-20% karena masih banyaknya permintaan pasar lokal yang belum terpenuhi.

“Lebih dari 90% produk batik terserap di pasar lokal, itu pun belum semuanya permintaan pasar terpenuhi. Sedangkan sisanya ekspor,” ujarnya.

Menurut dia, pebatik harus serius menggarap pasar lokal untuk membendung serbuan produk batik China yang kini diterima pasar. Seandainya semua pebatik membidik target ekspor, maka pasar lokal akan menjadi milik produk impor.

Sementara itu, Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf mengungkapkan industri batik di Jabar akan terus tumbuh dan lebih menjanjikan pada 2012 karena seluruh kabupaten/kota di Jabar yang berjumlah 26 sudah seluruhnya mengembangkan batik.

Pada 2008, jumlah kabupaten/kota di Jabar yang memiliki motif dan industri batik baru 10, kemudian pada 2011 meningkat pesat hingga mencapai 24 kabupaten/kota. “Tahun 2012 kami kembangkan motif batik untuk Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi,” ujarnya.

Berdasarkan data YBJB, jumlah pebatik di Jabar saat ini diperkirakan lebih dari 3.000 orang, tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan periode 2008 lalu yang masih berkisar 1.200 orang.

“Kami terus berupaya menggenjot pertumbuhan industri batik di Jabar. Upaya terbaru salah satunya dengan membangun akademi batik yang akan berperan sebagai lembaga pelatihan untuk melahirkan pebatik andal,” jelasnya.(fsi)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X