
Solopos
Membangun kepercayaan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Itulah yang terjadi pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang langsung dituding jika di masa lalu terjadi tawuran pelajar di jalan-jalan di ibukota.
Mereka membutuhkan waktu tahunan untuk membangun kepercayaan masyarakat, hingga akhirnya mereka bisa membuktikan bahws mereka kini mampu menghasilkan berbagai produk Teknologi untuk menunjang dunia industri.
Ikon “SMK Bisa”, sejak beberapa tahun terakhir terus digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meyakinkan masyarakat khususnya dunia usaha, bahwa lulusan yang dihasilkan SMK di Tanah Air handal dan siap memasuki dunia kerja.
Terobosan untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap mutu SMK melalui kebijakan memperbanyak SMK dan mengurangi pembangunan SMA telah dimulai sejak tahun 2004 pada era Mendiknas Bambang Sudibyo yang menetapkan ratio SMA : SMK pada tahun 2015 nanti akan menjadi 30 : 70.
Kebijakan pemerintah tersebut dinilai pengamat pendidikan Prof Dr Arief Rachman sebagai keputusan tepat dengan melihat karakteristik masyarakat Indonesia dengan jumlah pendudukan besar.
“Indonesia tidak berbeda dengan negara-negara berpenduduk besar lainnya yang memiliki persoalan tenaga kerja dan pengangguran sehingga kebijakan memperbanyak SMK sudah merupakan kebijakan yang tepat”, ujarnya.
Program pembangunan SMK unggulan dikembangkan di sepuluh titik di daerah koridor ekonomi. Daerah koridor ekonomi pengembangan SMK unggulan itu antara lain Bandung, Palembang, Palangkaraya, Wonogiri, Situbondo, Probolinggo, dan Denpasar.
“Sifatnya itu memperbesar SMK yang sudah ada,” ujar Direktur Pembinaan SMK Kemdiknas Joko Sutrisno.
Ada perbedaan mendasar pada program pembelajaran di SMK dibanding SMA, yakni pendidikan kejuruan memang lebih menekankan pada pembekalan praktek lebih banyak dibandingkan pembelajaran teori.
Pemerintah mendorong jumlah siswa baru SMK meningkat agar jumlah angkatan kerja terampil dan terlatih membesar.
Sebagai gambaran, angka partisipasi kasar di perguruan tinggi sekitar 17 persen. Lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi tidak lebih dari 30 persen. Sisanya sekitar 70 persen masuk ke pasar kerja dengan keterampilan minim.
Adapun dari lulusan SMK yang jumlahnya 750.000 orang per tahun, sekitar 15 persen melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
Selebihnya, 85 persen atau 610.000 orang masuk ke pasar kerja. “Separuh dari jumlah itu merupakan tenaga kerja siap pakai atau berketerampilan sehingga lebih mudah terserap ke pasar kerja,” kata Joko.
Terkait jumlah peminat SMK, Joko mengungkapkan, angkanya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, paling tinggi terjadi pada 2008 dan 2009.
Dia menuturkan pada tahun itu lompatannya bahkan mencapai 30%. Adapun tren peminat SMK mendaftar pada jurusan informatika dan otomotif. Namun, teknologi bangunan juga menunjukkan peningkatan.
Menurut Joko, Kemdikbud akan membangun 450 SMK terpadu di seluruh Indonesia dan lebih difokuskan ke daerah-daerah pemekaran dan daerah perbatasan.
Jumlah pembangunan SMK tahun ini memang sangat spektakuler. Tahun-tahun sebelumnya, SMK belum mendapat porsi yang pantas.
Tantangan ke depan, minimal 50% pembelajarannya siswa SMK dilaksanakan dengan ICT. “Sejauh ini sekitar 40 persen lebih murid SMK sudah menggunakan sistem online, sementara penggunaan komputer telah mencapai 100 persen,” kata Joko.
Membuahkan Hasil Upaya Kemdikbud sejak beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil, memasuki tahun 2012 menjadi awal yang baik bagi komunitas pendidikan kejuruan setelah mobil Esemka salah satunya hasil karya siswa SMK di Solo dijadikan mobil dinas Walikota Solo Djoko Widodo.
Dalam hitungan hari, mobil karya siswa SMK menjadi topik hangat dan kepedulian masyarakat luas, mulai dari rakyat biasa, legislatif, kalangan industri hingga Presiden RI ikut angkat bicara menyikapi hasil karya gemilang anak bangsa.
Padahal sejak lima tahun terakhir, siswa-siswi SMK dari seluruh penjuru nusantara telah berkali-kali memamerkan hasil karya pada bidangnya masing-masing yang boleh disebut spektakuler, mulai bidang mesin, IT, bangunan, animasi, bahkan hingga pesawat baling-baling.
Siswa SMK 12 Bandung sudah bisa merakit pesawat terbang sendiri. Nama pesawat yang dirakit sekolah yang dulunya bernama STM Penerbangan Bandung itu, adalah Jabiru atau J-430.
Hanya saja, pesawat rakitan siswa SMK 12 Bandung itu belum mendapat izin terbang karena amsih dalam proses.
Jenis pesawat yang dikembangkan adalah pesawat terbang kecil berkapasitas empat sampai enam orang penumpang. Fungsinya untuk pertanian, yakni penyiraman tanaman, penyemprotan pupuk, dan pengusiran hama.
Keterampilan siswa SMK Indonesia telah terbukti dengan kualitas produksi yang sudah memenuhi bahkan menyamai standar mesin dari berbagai negara seperti Jerman.
Dalam bidang otomotif, siswa SMK telah berhasil membangun lima prototipe mobil yang akan diajukan sebagai mobil nasional siswa SMK karena memang murni buatan tangan para siswa SMK.
Produksi prototipe kendaraan roda empat karya SMK tersebut sebagian juga menggunakan suku cadang hasil produksi sendiri.
Mobil kendaraan bak terbuka yang diberi nama “SMK Pick-Up” dengan perkiraan harga jual sekitar Rp45 juta, sedangkan jenis “SMK Sedan” dengan perkiraan harga tidak melampaui Rp100 juta. Ada juga tiga jenis mobil minibus produksi siswa SMK yaitu “SMK Van”, “SMK SUV”, “SMK Double Cabin”.
Kelima prototipe mobil karya siswa SMK ini secara berkala dipamerkan pada Lomba Keterampilan Siswa (LKS) Tingkat Nasional yang telah berlangsung ke-28 kalinya, di arena Pekan Raya Jakarta.
Selain membuat prototype mobil, SMK juga bermitra dengan PT Kanzen untuk merakit kendaraan roda dua. Dengan sistem getok tular, sebanyak 20 sepeda motor yang sedang dirakit sudah dipesan pembeli. Harga jualnya dibanderol Rp7 juta. Keuntungan yang diperoleh mencapai Rp400 ribu-Rp500 ribu.
“Dalam memproduksi sepeda motor ini, menggunakan sebanyak 90 persen bahan baku lokal, namun sekitar 10 persennya masih impor dari China. Kerja sama yang dijalin antara SMK dengan dunia industri dilakukan sebagai alih teknologi secara bertahap dari tingkat yang sederhana,” katanya.
Keuntungan tidak hanya pada ‘cash’, tapi dengan siswa melakukan pekerjaan riil. Artinya mereka belajar sesuatu yang nyata. Itu suatu keuntungan tidak langsung yang bisa dinikmati, kata Joko.
Pabrik pembelajaran atau disebut teaching factory yang berpusat di SMK N 10 Kota Malang, Jawa Timur dapat dijadikan sebagai embrio industri kreatif Kota Malang.
Di tempat ini, para siswa SMK belajar mulai dari merakit alat, membuat komponen, melakukan modifikasi sampai membuatnya menjadi bentuk komersial.
Di bidang lain, pihak SMK juga bekerja sama dengan perusahaan “notebook” seperti Zyrex, dan perusahaan perkakas dapur dari Semarang, yaitu PT Nayati untuk membuat perangkat “kitchen set” modern dengan harga yang murah.
Semua produk yang dihasilkan para siswa sama sekali tidak mengandalkan bahan baku impor.
“Kita sekarang sedang mengajarkan Indonesia untuk bisa mandiri dengan memproduksi bahan baku sendiri, namun dengan kualitas yang bisa dibanggakan,” kata Joko Sutrisno.
Bangkitnya Mobnas Kemdikbud kini boleh bangga dengan hasil kerja keras membangun pencitraan SMK sejak tahun 2005, dan mulai memetik hasil dengan kehadiran mobil Esemka yang memperoleh sambutan gembira dari masyarakat.
Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan dirinya akan memelopori menggunakan mobil Esemka di lingkungan kementeriannya.
Komersialisasi mobil Esemka yang diharapkan sebagai mobil nasional akan dilakukan tahun 2013 setelah seluruh syarat uji kelayakan dipenuhi.
“Saya pun tidak keberatan menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas. Dengan senang hati. Yang membiayai SMK kan kementerian. Masa yang membiayai tidak mau pakai,” ujarnya.
Tanpa disuruh ujar Mohammad Nuh dirinya akan menggunakan. Namun mobil tersebut masih memerlukan beberapa tahapan uji. Setelah uji emisi, mobil Esemka akan lanjut ke tahap komersialisasi, katanya.
Masa depannya SMK itu sangat cerah. Munculnya mobil Esemka ini dapat dipakai sebagai sumber inspirasi untuk mengembangkan mobil nasional.
Sumber inspirasi tidak harus dari orang besar. Pemerintah juga akan dorong kerjasama dengan Kementerian Perindustrian (Kemperin) agar produk SMK ini dapat memperoleh label SNI (Standar Nasional Indonesia), tambah Nuh.
“Harus tetap diuji kelayakannya, mekaniknya, elektrinya, hingga emisinya. Bahkan kalau mobil yang benar itu harus ditabrakkan. Tapi intinya, tahun 2012 ini harus dapat diselesaikan semuanya termasuk persoalan yang menyangkut administrasi,” imbuhnya.
Nuh juga berharap kementerian terkait mendukung rencana komersialisasi mobil Esemka terutama Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan.
DPR siap mendukung anggaran untuk mendorong pengembangan mobil Esemka yang merupakan karya anak bangsa.
“Dari sisi legislatif tidak ada masalah dengan anggaran. Jika diperlukan anggaran silakan saja, DPR dukung. Pemerintah harus mendorong hasil karya anak bangsa karena akan dapat menghemat devisa negara,” kata Ketua DPR, Marzuki Alie.(fsi)