Mayoritas Pemerintah Daerah Salah Menghitung Kerugian Bencana

BANDUNG BARAT - Mayoritas pemerintah daerah salah dalam melakukan penghitungan kerugian dan kerusakan akibat bencana alam.

Pakar Iklim dan Guru Besar Bidang Ilmu Hidrologi Universitas Gadjah Mada Prof Sudibyakto mengatakan akibat dari estimasi yang tidak tepat tersebut membuat negara mengalami kerugian yang tidak sedikit.

“Selama ini estimasinya yang dilakukan hampir setiap daerah itu terlalu tinggi. Karena berdasarkan temuan kami, hanya longsor saja tidak mungkin menimbulkan kerugian ratusan miliar,” kata Sudibyakto kepada Bisnis saat menjadi pembicara dalam pelatihan kerusakan dan kerugian di Bandung, Selasa (29/5).

Dijelaskanya, cara menghitung kerusakan dan kerugian akibat bencana harus mempertimbangkan lima sektor seperti housing (perumahan) infrastruktur, sosial (pendidikan dan keagamaan), produktif (irigasi, pertanian, wisata) dan cost issues (lingkungan dan perekonomian).

Oleh karenanya, dari semua bencana yang terjadi tidak akan menimbulkan kerugian yang sama. Metode pehitungan kerusakan dan kerugian ini disebut DALA (damage and loss asesment).

Indonesia memerlukan ahli yang bisa menghitung itu (kerusakan dan kerugian bencana) karena selama ini over estimate dalam melakukan penaksiran kerugiannya. Persoalannya belum semua daerah memiliki tim yang ahli dalam DALA ini.(K6/ajz)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X