CIREBON (bisnis-jabar.com) – Selain memiliki keindahan pemandangan alam, Waduk Setupatok yang berada di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Jawa Barat ini kadang cukup berbahaya apalagi saat airnya meluap.
Waduk yang dibuat pada masa penjajahan Belanda untuk mengairi sawah lebih dari 1.000 hektare yang kini dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum Ditjen Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung ini memang memiliki pemandangan indah.
Akan tetapi menurut keterangan masyarakat sekitar pada saat musim kemarau atau siklus 5 tahunan, Waduk Setupatok surut bahkan tidak ada genangan air sedikitpun.
Dan pada saat musim penghujan tiba, dan air waduk pun mulai pasang, para pengunjung diharap berhati-hati ketika berada di lokasi tersebut.
Secara kasat mata permukaan air di Waduk Setupatok terlihat tenang, akan tetapi berdasarkan beberapa kejadian (tenggelam) yang sampai menelan korban jiwa setiap tahunnya, jelas merupakan pertanda kalau pengunjung harus waspada saat terlalu dekat dengan air waduk.
Seorang nenek dari Desa Penpen Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Amah (70) mengatakan dari sejarah keberadaan Waduk Setupatok memang pernah terjadi perselisihan antar tokoh desa dekat Waduk Setupatok dan tokoh desa lain di Kecamatan Mundu Cirebon.
Tokoh Desa Penpen selaku kuncen Waduk Setupatok Ki Buyut Entol dahulu kala berhasil membendung luapan air saat bendungannya selalu jebol.
Apa yang dilakukan Ki Buyut Entol membuat beberapa tokoh dari desa lain iri dan mengirimkan sosok belut putih untuk merusak hasil kerja Ki Buyut Entol yang berhasil membendung Waduk Setupatok yang jebol.
Mengetahui adanya kiriman belut putih yang sengaja dikirim untuk merusak bendungan Waduk Setupatok, Ki Buyut Entol mengeluarkan sesumbar yang isinya air Waduk Setupatok tidak akan ramah pada orang-orang dan keturunan orang yang mengirimkan belut putih untuk merusak bendungan waduk.
“Itu cerita yang sering kami dengar dari para orang tua, yang mengingatkan agar berhati-hati ketika berada di air [Setupatok],” kata Amah.
Amah sendiri enggan menyebutkan sosok apa yang kerap diperbincangkan warga sehingga di kerap terjadi korban tenggelam hampir tiap tahun, mulai dari pengunjung yang berenang, memancing bahkan anak-anak sekolah yang sedang bermain di tepi waduk. (k3/IJA)