OPINI: Pertumbuhan ekonomi dalam persimpangan

Oleh Anggito Abimanyu

Badan Pusat Statistik beberapa pekan lalu mengeluarkan data kinerja perekonomian Indonesia kuartal I-2011. Produk domestik bruto (PDB) nominal yang dihasilkan pada kuartal itu mencapai Rp1.732,3 triliun dan pertumbuhan ekonomi 6,5% dibandingkan dengan kuartal yang sama 2010.

Jika rata-rata nilai tukar berada pada tingkat Rp8.500 per dolar AS, dan dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, maka PDB per kapita sudah mencapai sekitar US$3.600.

Pada akhir 2010, PDB nominal Indonesia berkisar Rp6.254 triliun, tertinggi di Asean. Namun, dengan perkiraan populasi tersebut, PDB per kapita Indonesia US$3.007, di bawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 adalah 6,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya 4,5%.

Adapun pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan berada di 6,5­7,0% dengan PDB nominal dapat mencapai sekitar Rp7.400 triliun.

Dengan prediksi PDB nominal tahun tersebut, dan berdasarkan estimasi PDB nominal pada 2011 yang sebesar Rp7.400 triliun, maka kisaran prediksi PDB nominal pada tahun depan akan berada di kisaran Rp8.500 triliun.

Proyeksi jangka panjang tahun 2030, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 6,5% per tahun dan pertumbuhan penduduk 1,8% per tahun, maka pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan pada kisaran di atas US$10.000.

Angka ini di bawah sasaran pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan oleh Yayasan Indonesia Forum tahun 2008.

Pada 2011 dicanangkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% dan dalam pokok-pokok kebijakan fiskal (PPKF) RAPBN 2012, ditargetkan antara 6,56,9%.

Yang tidak kalah pentinya ada lah tingkat inflasi direncanakan menurun dari sekitar 6,0% (2011) ke 3,5-5,5% pada 2012.

Prediksi 2012

Meskipun dengan realisasi kuartal I 2011, sudah dapat diberikan gambaran untuk 2012 yang akan datang. Pertumbuhan perekonomian dunia 2011 dan 2012 meskipun tetap belum seimbang, tampaknya mulai menuju ke tingkat sebelum krisis, yakni 4,4% dan 4,5%. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi negara maju masih di bawah potensinya 3%.

Situasi global juga masih tetap belum stabil, sektor keuangan belum pulih, harga-harga komoditas dunia masih bergejolak dan dolar masih tetap akan melemah.

Hal itu berarti pada 2012, prospek pertumbuhan ekonomi dunia akan meningkat tetapi risiko sektor keuangan dan risiko global meningkat pula.

Sumber-sumber pendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 masih akan tetap bersumber dari konsumen (dari penduduk yang besar) dan sumber daya alam. Meskipun demikian, sudah ada tanda-tanda bahwa penanaman modal, khususnya asing (PMA) mulai deras serta pertumbuhan ekonomi di daerah juga terlihat menggeliat.

Nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung menguat terhadap dolar, sehingga rata-rata nilai tukar sangat mungkin berada pada level Rp8.500 per US$ atau bahkan lebih kuat daripada itu. Kebijakan BI untuk tidak menginter vensi terha dap kisaran nilai tukar membantu inflasi dalam kecenderungan menurun, yakni 4-5%.

Proyeksi inflasi tersebut dengan catatan pemerintah dan Bank Indonesia mampu meminimalkan dampak kenaikan hargaharga pangan dan energi (BBM dan listrik). Kenaikan harga BBM dan listrik tidak bisa dielakkan lagi, karena akan membebani anggaran. Jika tidak dilakukan atau ditunda berarti pemerintah SBY dan Boediono akan memberikan beban bagi pemerintah yang akan datang.

Dengan faktor-faktor tersebut, pertumbuhan ekonomi pada 2012 diperkirakan tidak akan melebihi 7%.

Faktor konsumsi rumah tangga tetap akan kuat. Penjualan berbagai produk ritel akan tetap meningkat pesat. Penjualan mobil dan motor akan meningkat dan pertama kalinya penjualan mobil diperkirakan dapat melampaui 1 juta unit.

Menuju pasar tunggal Asean, perusahaan elektronik dan mesin-mesin juga akan semakin meningkatkan kapasitasnya. Derasnya PMA serta tingginya impor barangbarang modal dan bahan baku, produk industri pengolahan akan kembali meningkat signifikan pada 2012.

Demikian juga perkembangan daerah-daerah yang semakin banyak menghasilkan koridor dan pusat pertumbuhan. Yang penting, adalah percepatan pembangunan infrastruktur dan transportasi masal dalam kota serta interkoneksi antarpulau.

Faktor ketersediaan infrastruktur menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7%.

Kemacetan struktural sebagaimana yang terjadi di Jakarta (dan di beberapa kota besar lainnya), pelabuhan Merak, Tanjung Priok telah menghambat pertumbuhan ekonomi.

Muatan manusia dan barang yang setiap tahunnya mengalami kenaikan dua sampai lima kali lipat, mensyaratkan penyediaan jalan, pelabuhan, bandar udara yang memadai.

Jika tidak diperhatikan, buntut dari kemacetan panjang berjam-jam semakin menjadi sumber ketidakpastian dan penghambat pertumbuhan ekonomi.

Kesenjangan

Tidak kalah pentingnya adalah agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi harus mampu mengurangi kesenjangan antarkelompok pendapatan dan antardaerah. Yang terjadi justru sebaliknya, kesenjangan tidak membaik.

Yang urgen juga adalah penyediaan sistem jaminan sosial yang terkoordinasi. Tidak seperti sekarang, begitu banyak program, raskin, jamkesmas, bantuan sosial dan lainlain, tetapi satu sama lain berjalan sendiri-sendiri. Program subsidi langsung juga tak kunjung tiba karena program pendataan tunggal penduduk belum tuntas.

Program desentralisasi fiskal juga tidak menghasilkan perbaikan kesenjangan antardaerah. Pemerintah merencanakan perubahan UU 32 (Pemerintahan Daerah) dan UU 33 (Perimbangan Pusat dan Daerah) 2004 secara parsial.

Pemisahan pemberian kewenangan (UU 32) dengan perimbangan keuangan (UU 33) akan memperlebar jurang kesenjangan antardaerah, perbaikan layanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

Tanpa perbaikan masalah infrastruktur, program kemiskinan dan kesenjangan, target menuju pertumbuhan ekonomi 7% pada 2014 dan pendapatan per kapita US$8.000 menjadi mustahil. * Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X