Perda K3 di Bandung belum efektif

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Wali Kota Bandung menilai Peraturan Daerah (Perda) No 11 Tahun 2005 terkait dengan Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan (K3) belum berjalan efektif guna menciptakan kebersihan di kota tersebut.

“Perda K3 memang belum efektif karena masih banyak warga Kota Bandung yang membuang sampah sembarangan,” kata Wali Kota Bandung, Dada Rosada kepada wartawan di Bandung.

Menurut Dada, untuk menjalankan Perda K3, Pemkot masih butuh waktu untuk menyosialisasikannya lagi karena bagaimanapun, ia mengakui agar Perda tersebut berjalan efektif tergantung kesadaran masyarakatnya.

“Meski demikian, sampai sekarang Perda ini terus dilaksanakan meskipun harus dijalankan secara bertahap, karena kita akui kesadaran masyarakat memang masih cukup minim,” kata Dada.

Dia menjelaskan, dengan minimnya kesadaran warganya membuat Kota Bandung hingga kini tidak bisa lepas dari banjir skala kecil (cileuncang) di jalan-jalan.

“Kita bisa lihat banjir itu kan, karena banyaknya sampah di saluran air (drainase) sehingga air tersumbat lalu naik ke jalan, dan untuk mengatasi masalah itu tidak bisa Pemkot sendiri yang melakukannya tetapi harus ada kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, yang menjadi tugas Pemkot dalam hal itu hanya memperbesar drainase yang sempit dan untuk membersihkannya adalah tanggung jawab bersama antara Pemkot dan masyarakat.

“Kalau banyak sampah untuk membersihkannya kita pasti meminta bantuan ke masyarakat baik itu melalui Camat, Lurah RW/RT maupun organisasi masyarakat, tetapi kalau pelebaran dan perbaikan drainase baru itu tugas kami,” jelasnya.

Dengan demikian, Dada mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke drainase atau fasilitas umum lainnya yang memang bukan untuk membuang sampah agar Bandung benar-benar bisa menjadi Kota yang memiliki Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan.

Selain itu, Dada meminta warga yang membangun bangunan di dekat trotoar/drainase agar sisa bekas pembangunan untuk dibersihkan dan tidak dibuang atau disimpan di trotoar karena batu-batu sisa pembangunan tersebut bisa tersapu air hujan yang kemudian masuk drainase.

“Kalau hujan kan kadang sisa pembangunan masuk ke drainase yang akhirnya menimbulkan kembali banjir,” katanya. (MSU)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X