Pernikahan beda agama: Biarkan anak yang memilih

reuters

Rahmayulis Saleh & Mardiyah Nugrahani

Menikah antar beda agama di Indonesia, memang belum dibolehkan, dan tidak dibenarkan oleh undang-undang. Menurut UU Perkawinan No. 1/1974, perkawinan hanya sah bila dilaksanakan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Perkawinan secara Islam dilayani dan dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA), sedangkan perkawinan bagi umat Kristen, Katholik, Hindu dan Buddha dicatatkan di Kantor Catatan Sipil.

Mengapa pernikahan beda agama dilarang? salah satu alasan yang sering disebut karena untuk menjaga kelestarian perkawinan itu sendiri. Sebab, bisa jadi perbedaan agama itu akan memunculkan akibat yang banyak bagi orang yang menjalaninya, diantaranya mengenai pendidikan anak, khsusnya masalah agama anak.

Memang cukup banyak masyarakat yang langgeng dalam hidup perkawinan mereka walau beda agama. Di antaranya para selebritis, seperti  Jamal Mirdad  (Islam) dengan Lidya Kandau (non-Islam), Katon Bagaskara (non-Islam) dengan Ira Wibowo (Islam), Nia Zulkarnain (Islam) dengan Ari Sehasale (non-Islam).

Bagaimana mereka mengasuh anak-anaknya, terutama dalam bidang pendidikan agama. Agama siapa yang diikuti, agama ibu atau ayah.

Seperti yang dialami oleh pasangan perkawinan antar beda agama Nonnie Rering dengan Hamdani Tomagola. Mereka memiliki anak tunggal seorang perempuan yang kini sudah berusia 12 tahun.

Nonnie yang berasal dari Ambon dan beragama Kristen, menikah dengan Hamdani seorang pemeluk Islam dari Ternate, Maluku Utara. Mereka berkenalan sejak Nonnie masih duduk di SMP, dan merajut cinta selama 13 tahun sebelum resmi menikah.

Kini 13 tahun sudah dia hidup berumahtangga. Mengenai agama anak-anak yang kelak lahir dari perkawinan ini, lanjut Nonnie, sudah disepakati bersama.

“Sejak awal kami sudah bicarakan. Anak-anak akan memakai marga dari bapaknya, sementara untuk agama akan mengikuti agama ibu,” ungkapnya.

Masalah pendidikan agama bagi anak tersebut sampai saat ini tidak dipersoalkan. “Karena diantara saya dan suami sudah ada perjanjian. Jadi ya, aman-aman saja, dan keluarga kami cukup bahagia.”

Retno Pudjiawati psikolog keluarga dari Lembaga Psikolog Terapan UI mengatakan membina kehidupan rumah tangga dengan keyakinan yang berbeda pasti lebih sulit dibandingkan dengan satu keyakinan. Salah satu persoalan yang sering memicu riak-riak kecil di rumah tangga adalah pemilihan agama bagi anak

“Untuk menanamkan agama dan pendidikan apa yang akan dianut anak bukan sebuah perjuangan yang mudah, lantaran kedua orangtuanya berbeda keyakinan,” tuturnya.

Sifat lahiriah manusia yang sering mementingkan egonya agar anak bisa lebih mengikuti satu diantara mereka akan menjadi persoalan besar di kemudian hari.

Toleransi

Untuk mencegahnya, lanjut Retno, suami-istri harus menyamakan pandangan dan memiliki toleransi yang tinggi. Harus diakui, pernikahan beda agama umumnya akan menyebabkan anak-anak kebingungan dalam memilih agama yang akan diyakininya.

Namun bila keduanya mengedepankan sikap yakni toleransi, demokratis dan menghargai perbedaan pun maka kerukunan dalam berumah tangga pun akan terjalin.

“Toleransi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan dari kasus perkawinan beda agama. Beberapa fenomena artikulasi sikap toleransi itu nampak dalam seperti adanya kesepakatan untuk tidak memasang simbol agama tertentu di rumah, menghormati anggota keluarga yang menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.”

Sikap toleransi ini pun dapat ditumbuhkan dengan membiarkan anak-anak melakukan ritual keagamaan kedua orangtuanya. Dalam usia pertumbuhan, anak-anak yang hidup di keluarga berbeda keyakinan tentunya akan merasa kebingungan dengan dua ritual keagamaan yang terjadi di dalam keluarganya.

Namun, sikap yang memberi kebebasan seluas-luasnya kepada anak-anaknya untuk mempelajari agama mana yang akan diikuti ini tentu akan menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi.

“Intinya orangtua hanya menanamkan pada anak untuk bisa bersikap dan berahlak yang baik melalui masing-masing versi agama dari orangtuanya. Upayakan untuk tidak memaksakan anak mempelajari satu agama saja, biarkan mereka mempelajari agama mana yang akan diyakininya,” katanya.

Tak hanya itu, untuk menghargai pasangan hidupnya kedua pasangan pun harus memiliki sikap bijaksana yakni memiliki pengetahuan mengenai ajaran agama yang dianut masing-masing pasangannya.

Adanya perbedaan agama dalam rumah tangga memungkinkan sekali anggota keluarga untuk mengetahui lebih dalam mengenai agama yang dianut oleh pasangannya. Dengan mengetahui ritual yang dilakukan oleh pasangannya maka terjadinya miss communication dalam keluarga pun akan semakin mudah diminimalisir.

Retno mengungkapkan pada kehidupan rumah tangga pasangan beda agama nyatanya tidak hanya menimbulkan kesan negatif untuk anaknya. Menurut dia, pada masa pertumbuhan anak yang dilahirkan dalam keluarga yang berbeda keyakinan memiliki sedikit kelebihan diantara anak yang dilahirkan dari orangtua yang seiman.

Menurutnya anak-anak yang dilahirkan dari pasangan beda agama biasanya lebih memiliki sikap toleransi yang tinggi ketimbang anak anak pada umumnya. Hal tersebut karena dalam kesehariannya sedari dini mereka telah dituntut untuk mampu menghargai perbedaan yang ada di sekeliling mereka. (MSU)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X