Petani Pantura mulai bidik sayuran dataran rendah

Sulit membayangkan bagaimana bisa pengusaha Prancis bernama Mr. Bulay pada tahun 1910 mendirikan perkebunan karet di Cikaso, Kabupaten Sukabumi, yang berjarak sekitar 60 km dari ibu kota kabupaten, Palabuhan Ratu, atau 100 km dari Kota Sukabumi.

Bukan apa-apa, tim Susur Selatan Jabar Bisnis yang mengunjungi perkebunan itu, awal November 2010 atau 100 tahun kemudian, memerlukan waktu sekitar 3 jam dari Palabuhan Ratu untuk bisa  sampai di lokasi.

Kami yang baru berangkat dari daerah wisata pantai unggulan Jawa Barat itu sekitar pukul 14.30 menargetkan bisa sampai di lokasi sebelum magrib untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan ternyata, nyaris tidak ada lampu penerangan jalan umum di sepanjang perjalanan.

Syukurlah, kondisi jalan dari Palabuhan Ratu menuju Cikaso relatif bagus dengan panorama alam yang luar biasa. Selain melewati hutan, perkebunan, persawahan, dan sesekali perkampungan, kami pun melintasi beberapa kota kecamatan seperti Jampang Kulon dan Surade.

Kondisi dua kota kecamatan ini ternyata di luar perkiraan. Suasananya tidak jauh berbeda dengan kota kecamatan yang dekat dengan perkotaan. Meskipun tidak menggunakan helm, banyak remajanya yang jalan-jalan di sore hari dengan menggunakan sepeda motor, menenteng telepon genggam, dan berbelanja di gerai waralaba ritel modern.

Dengan kondisi jalan yang baik dan arus kendaraan yang sangat lengang, perjalanan kami cukup lancar. Namun mobil van yang kami tumpangi tidak bisa melaju dengan kencang karena kondisi jalan yang berkelok-kelok, melalui tanjakan turunan yang tajam, dan kiri jalan pada beberapa ruas adalah jurang. Pada saat berada di puncak tertinggi, pemandangan di sisi kiri adalah hamparan lembah yang luas.

Kantor perkebunan Cikaso yang menyatu dengan perumahan karyawan peninggalan Mr. Bulay agak menjorok dari jalan utama lintas selatan menuju Tegal Buleud. Lokasinya berada di pinggir muara Sungai Cikaso dan dikelilingi hutan yang cukup lebat. Suasana malam hari sangat sepi.

”Kantor ini berada di lembah sehingga udaranya cukup panas di siang hari karena angin hanya berputar-putar di area ini,” kata seorang petugas.

Perkebunan Cikaso yang semula bernama perkebunan Franesia merupakan satu-satunya perkebunan peninggalan Bangsa Prancis di Indonesia.

Menurut Admninistratur PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Cikaso Tommy Komara, perkebunan Franesia yang pernah berkantor di Jalan Aceh No. 67 Bandung merupakan pemasok kebutuhan karet di Eropa dan belahan dunia lainnya pada masa kolonialisme.

Seiring dengan perkembangan zaman, Franesia diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada 1960 dan menjadi milik PT Perkebunan Nusantara VIII.

Sekarang jejak peninggalan Mr. Bulay nyaris tidak ada, karena bangunan pabrik, kantor dan guest house sudah diganti. Satu-satunya petunjuk adalah frasasti bertuliskan Franesia yang terlihat di salah satu pintu air kuno yang memasok kebutuhan air bagi pabrik. Ada juga jembatan tua berwarna kuning yang masih berdiri di sekitar Palabuhan Ratu, sebagai infrastuktur untuk mengangkut hasil pabrik ke Sukabumi.

Kebun Cikaso kini memiliki lahan karet seluas 2.013 hektare di Kecamatan Tegal Buleud dengan produksi sekitar 2 ton – 2,5 ton karet kering per hari.  Tingkat produksi itu baru sekitar 50% dari kapasitas pabrik yang mencapai 4,5 ton per hari, akibat masih rendahnya produktivitas kebun karena sebagian besar tanamannya sudah tua.

Untuk itu, Kebun Cikaso mulai tahun ini meremajakan tanaman pada lahan seluas 73 hektare. Program replanting ini akan ditingkatkan menjadi 162 hektare pada 2011 dan 250 hektare pada 2012.

Cikaso bukan satu-satunya perkebunan milik PTPN VIII di Jabar selatan. BUMN itu juga memiliki kebun karet di Pasir Badak Sukabumi, Agrabinta Cianjur, Bunisari Lendra Garut, Mira Mare Garut, dan Batu Lawang Ciamis.

Juga bukan hanya perkebunan besar milik pemerintah yang ada di sini, perkebunan rakyat dan swasta juga bertebaran, selain kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani.

Lumbung padi terdepan

Bila kawasan selatan Jabar kaya dengan komoditas perkebunan, wilayah utara provinsi ini sudah lama dikenal sebagai lumbung padi nasional. Meskipun luas lahan mulai tergerogoti olah bangunan pabrik, hamparan sawah masih mudah ditemui terutama di Kabupaten Karawang.

Hinggi kini, Jabar masih diakui sebagai salah satu lumbung padi nasional dengan produksi sekitar 10 juta ton per tahun.

Enjam Jamsir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Karawang, mengemukakan daerah itu siap menjadi yang terdepan dalam mempertahankan Jabar sebagai lumbung padi nasional.

Melalui UU Nomor 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dia yakin tingkat alih fungsi lahan menjadi pabrik atau perumahan bisa dikendalikan. KTNA Karawang juga akan merevitalisasi 23.000 hektare lahan terlantar untuk diaktifkan kembali sebagai persawahan.

Akan tetapi, di tengah semangat mempertahankan sentra padi nasional, KTNA tidak kuasa menahan keinginan petani setempat untuk mengembangkan komoditas holtikultura yang biasanya diproduksi pada dataran tinggi, seperti brokoli dan jamur

Menurut Enjam, petani mulai membudidayakan komoditas tersebut karena hasilnya ternyata bagus, sama seperti sayuran yang ditanam di dataran tinggi dengan cuaca yang relatif dingin.

Petani Cirebon juga mulai mengembangkan sayuran dataran rendah. Bahkan di Kota Udang tersebut, sudah dibentuk Koperasi Sadar (sayuran dataran rendah) yang beranggotakan sekitar 700 petani. Selama ini, sentra produksi sayuran tersebut yang terkenal di Jabar adalah Lembang.

Bambang Mukti Riadi, Deputi Pemimpin Bank Indonesia Cirebon Bidang Ekonomi Moneter, menjelaskan permintaan pasar lokal dan ekspor terhadap komoditas sayuran di daerah pantura sangat tinggi.

BI pun mendorong petani di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) untuk mengembangkan sayuran dataran rendah, di antaranya cabai merah, pokcoy, dan brokoli.

“Potensi pasar sayuran tersebut besar, salah satunya ekspor ke Taiwan yang saat ini baru terpenuhi 10% dari permintaan. Juga ada permintaan pokcoy dari Singapura sebanyak 20 ton per bulan,” paparnya.

Diakui, kualitas sayuran yang dihasilkan petani di Cirebon sedikit berbeda dengan sayuran Lembang dan daerah dataran tinggi lainnya, tetapi masih bisa diterima oleh pasar.

Keberhasilan petani sayur di pantura ini karena mereka menggunakan teknologi yang cocok untuk sayuran dataran rendah, salah satunya pupuk dari limbah jamur merang.

“Sayuran ini banyak ditanam di sisi jalan pantura, 100—200 meter dari bibir pantai. Sebelumnya lahan tersebut ditanami padi, tetapi karena kurang produktif sehingga diganti dengan sayuran,” jelasnya.

Dalam pandangan anggota Masyarakat Agribisnis Indonesia Jabar Bidang Pemasaran Iyus Supriatna, teknologi bisa membuat komoditas yang biasanya dibudidayakan di dataran tinggi, menjadi bagus ditanam di dataran rendah.

Namun, hal itu juga patut diwaspadai agar tidak menjadi bumerang dengan terjadinya alih fungsi lahan dari komoditas lain, baik tanaman pangan lain, perkebunan atau kehutanan.

Menurut dia, pengembangan agribisnis Jabar tidak bisa terpaku pada sistem monokultur. Sebab pada suatu saat nanti, ketersediaan lahan untuk pertanian akan semakin tersisih untuk sektor lain, seperti perumahan, industri, dan pertambangan.

Dia berpendapat sistem polikultur dengan mengombinasikan tanaman keras dengan tanaman semusim sudah menjadi keharusan untuk diterapkan dari sekarang. Intinya, produksi pertanian bukan berasal dari tingginya produktivitas tanaman, tetapi dari produktivitas lahan.

Yang juga penting, kata dia, pengembangan sektor agribisnis di selatan dan utara Jabar harus menyeluruh. Tidak hanya on farm yang jadi target, tetapi pertumbuhan industri pengolahannya juga harus ditata agar lebih dekat ke kawasan produksi.

Jawa Barat, kata dia, juga jangan terlena dengan anugerah tanah yang subur. Sekarang ibaratnya menanam apa pun bisa jadi, tetapi potensi pasarnya jangan dinomorduakan.

”Pendekatan pengembangan agribisnis sudah tidak bisa lagi berdasarkan ketersediaan lahan, tetapi harus bergeser ke potensi pasar,” tegasnya. (MSU/k35/k37/k38/k45)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X