Petani Sawit Lampung Sedang Galau

BANDARLAMPUNG — Sejumlah petani kelapa sawit beberapa desa di Kabupaten Lampung Tengah khawatir hasil panen kebun mereka ditolak pihak pabrik pengolahan kelapa sawit, menyusul masih anjloknya harga tandan buah segar dalam dua pekan terakhir.

“Kami sangat khawatir, setelah buah sawit dipanen dan diangkut ke pabrik lalu ditolak, karena saya dengar sejak harga sawit anjlok terjadi antrean panjang truk yang akan mengangkut TBS (tandan buah segar) ke pabrik pengolahan kelapa sawit,” kata petani Desa Kotabatu, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, Suwarno (42) di Kotabatu, Kamis.

Sebelumnya, sudah berlangsung sekitar dua pekan terakhir harga TBS kelapa sawit di beberapa sentra perkebunan sawit di Lampung Tengah anjlok dari Rp1.300 menjadi hanya sekitar Rp700/Kg, akibatnya merugikan para petani setempat.

Dia menjelaskan, jika harga buah sawit masih terus anjlok, dan pabrik tidak mau menampung dengan cepat karena kelebihan pasokan, maka petani akan sulit untuk memanen hasilnya.

Hal itu, katanya lebih lanjut akan berdampak buruk, karena buah sawit bisa tua di pohon, bahkan kalau dibiarkan terlalu lama bisa terancam busuk.

Suwarno yang mengaku memiliki sekitar 10 hektare kebun sawit, itu telah mendapat iformasi bahwa sejumlah pabrik kelapa sawit di Lampung Tengah membatasi kiriman TBS dalam partai besar sejak produksi melimpah dan harga anjlok belakangan ini.

“Kami bahkan mendengar, pihak pabrik hanya mau menerima kiriman sawit yang diangkut truk-truk kecil kapasitas maksimal 10 ton, kalau yang diangkut truk besar atau tronton kapasityas sampai 20 ton tidak mau menerima,” ucapnya.

Suwarno dan petani sawit lainnya di daerah itu sangat mengharapkan harga kelapa sawit di daerahnya kembali normal setidaknya seperti semula, atau bisa meningkat lebih tinggi lagi.

Sementara itu, hasil pemantauan di sekitar pabrik pengolahan kelapa sawit di Kecamatan Kalirejo, Kabupaen Lampung Tengah, sekitar 50 Km dari Desa Kotabatu, menunjukkan dalam dua hari terakhir antrean truk pengangkut buah sawit ke pabrk itu makin pendek.

“Dua hari ini antrean truk semakin pendek, tadinya sampai sekitar 500 meter, tapi sejak Rabu sudah berkurang menjadi sekitar 200 meter,” kata seorang warga Kalirejo, Nandang.

Beberapa petani penjual kelapa sawit di Kalirejo mengatakan, harga sawit di Kalirejo juga turun, yakni sekitar Rp800/Kg, dari sebelumnya di atas Rp1.300/Kg, dan pabik terus beroperasi sesuai dengan kapasitasnya.

Ajloknya harga TBS itu antara lain karena saat ini hasil panen petani melimpah, buah membanjir, sehingga pihak pabrikan kewalahan menampung produksi dari petani tersebut.

Selain di desa Kotabatu, kondisi sserupa juga dialami oleh petani di Desa Payung Mulya, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, yang berdekatan dengan desa itu.

Dalam beberapa tahun terakhir para petani di desanya yang berada di paling Barat Kabupaten Lampung Tengah itu makin gemar menanam pohon kelapa sawit untuk menambah pendapatan keluarga, karena diilhami oleh harga yang lumayan dan lebih cepat bisa dipanen.

Mereka sebelumnya rata-rata bertani kebun kopi, lada, coklat (kakao), dan pisang selain menggarap lahan sawah.

Sedangkan khusus di Desa Kotabatu, kata Warno lagi, dari sekitar 820 kepala keluarga (KK) warga taninya, sudah sekitar 50 persen atau 400-an KK sudah memiliki kebun kelapa sawit, dengan luas rata-rata antara setengan hingga dua hektare, bahkan ada beberapa petani yang memiliki luas kebun lebih.(Antara/yri)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X