Produksi Tebu 2011 Turun 30%

JAKARTA (bisnis-jabar.com): Target swasembada gula nasional pada 2014 sulit diwujudkan, karena produksi gula nasioanal turun hanya 2,1 juta ton menyusul penurunan produksi tebu sebesar 20%-30%. Padahal, pemerintah menargetkan produksi gula 2011 bisa mencapai 2,7 juta ton.

Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) M. Nur Khabsyin memperkirakan produksi gula tahun ini hanya 2,1 juta ton. Padahal, produksi gula tahun lalu bisa mencapai 2,3 juta ton.

“Penyebabnya adalah turunnya produksi tebu dan rendahnya rendemen,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Bisnis melalui surat elektronik, hari ini.

Menurut dia, produksi tebu per hektare mengalami penurunan rata-rata 20%-30%. Produksi tebu rata-rata 60-70 ton per ha, sedangkan pada tahun lalu mencapai 80-90 ton tebu per ha.

Penurunan produksi tebu itu, kata dia, disebabkan anomali iklim yang pada awal tanam sampai menjelang giling pada Mei 2011, curah hujan tinggi. Tingginya curah hujan, menurut Khabsyin, menyebabkan tebu tidak dapat tumbuh dengan optimal. Selain itu, menyebabkan rendemen rendah pada awal giling yaitu hanya 5-6%.

Dia memaparkan pada pertengahan Juni 2011 mulai tidak ada hujan. Bahkan, hingga saat ini terjadi kekeringan, sehingga banyak tebu yang berbunga menjadi kering mengakibatkan berat tebu turun.

Taksasi pada Maret 2011 atau sebelum musim giling tebu, produksi gula diperkirakan dapat mencapai 2,7 juta ton. Namun, pada Juli 2011, kata dia, target diturunkan menjadi 2,5 juta ton. Dia berpendapat target 2,5 juta ton sulit terwujud, karena sejumlah pabrik gula akan tutup giling lebih awal dari yang direncanakan mengingat pasokan tebu sudah mulai habis.

“Di Jawa Tengah dan Jawa Barat semua pabrik gula tutup pada September ini. Pabrik gula di Jawa Timur sebagian  tutup pada Oktober [2011], tetapi ada yang sudah tutup pada bulan ini.”

Musim giling tebu 2010 berakhir hingga November. “Kami pesimistis kalau produksi gula bisa mencapai 2,5 juta ton. Kami lebih realistis, produksi hanya sekitar 2,1 juta ton.”

Sementara itu, rendemen tebu akhir-akhir ini rata-rata hanya 7,13% naik dibandingkan dengan panen sebelumnya kendati tidak terlalu signifikan yang disebabkan tebu dalam kondisi kering.

Luas lahan perkebunan tebu nasional 453.000 ha dengan produksi rata-rata 67 ton per ha dan rendemen rata-rata 6,9%, maka akan dihasilkan gula sebanyak 2,1 juta ton.

Dampak dari penurunan produksi tebu, kata dia, mengakibatkan petani rugi sekitar 5 juta per ha. APTRI mengharapkan ada perhatian dan pemihakan pemerintah terhadap petani tebu.

Dia menilai kendati produksi gula tahun ini turun, pemerintah tidak perlu membuka keran impor, karna pemasaran gula cenderung lesu.

Stok gula, kata dia, masih mencukupi. “Apalagi ditambah beredarnya gula rafinasi di pasar dan gula selundupan asal Malaysia lewat Entikong dan Batam. Ini terbukti harga gula yang tidak beranjak naik.”

Pada lelang gula petani sebelum dan sesudah Lebaran masih di kisaran Rp8.410 per kg. Padahal, pada tahun lalu, harga lelang gula dapat mencapai Rp9.400 per kg.(fsi)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X