Resensi film Ayah, Mengapa Aku Berbeda

Oleh: Stefanus Arief Setiaji

Beberapa waktu lalu, sejumlah film karya anak negeri kembali menghiasi layar bioskop Tanah Air. Beberapa diantara film yang muncul, mengusung kuat cerita tentang kehidupan remaja yang sarat pesan kesetaraan hak dan anti-kekerasan.

Satu diantara film yang launching pada 17 November 2011 yakni Ayah, Mengapa Aku Berbeda yang dibesut oleh Findo Purwono. Film produksi Rapi Film ini menampilkan bintang senior seperti Rima Melati dan Surya Saputra, serta pendatang baru Dinda Hauw.

Film ini mengangkat tema kesetaraan hak seorang anak berkebutuhan khusus bernama Angel (Dinda Hauw). Angel yang sejak kecil sudah ditinggal oleh ibunya, hidup bersama Ayahnya (Surya Saputra) dan neneknya (Rima Melati).

Angel merupakan penyandang tunarungu yang mewarisi bakat ibunya sebagai seorang pianis. Bakat itu tercium saat dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Meski berkebutuhan khusus, Angel mampu bersaing dan berprestasi di sekolah umum.

Saat berada di sekolah itu, Angel kerap menerima perlakuan tak menyenangkan dari kawan remaja putri lainnya.

Di tengah perlakuan teman-temannya itu, Angel menyimpan cinta. Satu kesempatan, Angel bertemu dengan Ferly yang diperankan vokalis band Lyla, Indra Sinaga. Ferly inilah yang membawa semangat baru di dalam hidup Angel.

Ketika tengah menyiapkan diri mengikuti kompetisi piano, ayahnya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Singkat cerita, Angel berhasil meraih gelar di kompetisi piano itu. Sayangnya, kebahagiaan Angel tak lama. Dia harus kehilangan ayah yang dicintainya karena serangan jantung. Angel melanjutkan hidup bersama neneknya.

Saat dia lulus dari bangku sekolah menengah umum (SMU), duka kembali menghampirinya. Ferly, cowok yang mampu mengisi hatinya tewas dalam satu kecelakaan.

Film Ayah Mengapa Aku Berbeda ini diangkat dari novel dan cerita online karya Agnes Danovar. Di dunia maya, karya Agnes ini dibaca hampir 2 juta orang.

Sebagian dari pembaca novel ini menilai kisah kehidupan Angel ini cukup menyentuh, bahkan terkesan cerita ini yang kaya dengan derai air mata.

Namun, cerita yang menyentuh di novel tersebut menjadi terkesan datar saat dipindah ke media layar lebar. Secara kualitas gambar, film ini sangat baik.

Daya kritik film ini terletak pada pengambilan waktu yang terkesan singkat. Sutradara film ini seakan ingin mengadopsi seluruh cerita dalam novel ke satu rangkaian film yang memiliki durasi terbatas.

Alhasil, adegan yang lahir pun seolah serba kebetulan, tidak lahir dari satu proses cerita yang utuh. Akan tetapi, pesan moral yang dibawa film ini cukup kuat. Mengajak penonton menghargai perbedaan, saat seorang yang berkebutuhan khusus dapat hidup setara dengan orang normal lainnya.

Head of Market Management Allianz Indonesia Alan Darmawan menilai film ini mengajarkan kepada masyarakat tentang semangat untuk memiliki harapan di setiap orang, meski dia memiliki keterbatasan fisik.

“Film ini menunjukan, mereka yang dari sisi fisik tidak sempurna memiliki semangat yang tak kalah dengan yang tidak sempurna. Ini memberi ajaran kepada anak-anak agar hidup tak saling membedakan,” ujarnya.

Meski banyak adegan tangis di dalam film ini, bukan berarti film Ayah Mengapa Aku Berbeda ini menjadi karya cengeng yang sekedar menjual penderitaan. (MSU)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X