Sejumlah Mal di Bogor Jadi Tempat Mangkal PSK

image: web

BOGOR: Praktik pekerja seks komersial belakangan semakin marak di tempat terbuka dan keramaian seperti mal atau pusat berbelanjaan di Kota Bogor, Jawa Barat.

“Tren praktik PSK sudah mulai merabah kawasan mal dan sekarang mereka sudah berani muncul sore hari,” kata Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan pada Satpol PP Kota Bogor Bugi Setiawan, di Bogor, Rabu (25/5).

Bugi mengatakan para PSK tersebut sulit dilacak, tidak seperti yang biasa mangkal di pinggir jalan dan tempat-tempat penginapan.

Para PSK beraktifitas seperti para pengunjung lainnya. Namun yang membedakan mereka adalah dari segi penampilan yang lebih seronok dan menarik perhatian.

Bugi menyebutkan untuk menertibkan para PSK mal tersebut memerlukan teknik khusus, karena lokasi praktek mereka yang ditempat umum menyulitkan petugas melacak keberadaannya.

Menurut dia, mulai beralihnya kawasan praktik para PSK tersebut karena sudah seringnya dilakukan razia PSK yang biasa mangkal di jalan sehingga mendorong mereka untuk membuka praktik di tempat perbelanjaan.

Para PSK yang biasa mangkal di tempat perbelanjaan tersebut incaranya tidak hanya pria hidung belang dari golongan menengah tapi juga dari golongan atas seperti pengusaha.

Selain itu, kata Bugi para PSK yang biasa mangkal di mal tersebut jam terbangnya tidak lagi malam hari, namun mereka telah membuka praktik sejak sore hari sesuai jam buka mal.

Menurut dia, hampir semua mal sudah mulai ramai dijadikan tempat mangkal PSK, salah satu mal yang banyak praktik PSK seperti Warung Jambu.

Diduga para PSK yang biasa mangkal di mal memiliki sindikat yang memperkerjakan mereka.

Bugi menyebutkan pihaknya telah melakukan upaya penertiban keberadaan PSK tersebut dengan menggelar razia rutin setiap bulannya.

Razia terakhir digelar jajaran Satpol PP berlangsung Senin (23/5) malam, sebanyak 15 orang PSK dan dua orang waria terjaring petugas gabungan, Polisi, Danpom dan Dinsos Kota Bogor.

Lokasi razia dimulai dari Pajajaran, Juanda, Otto Iskandar Dinata, Sukasari, Tajur dan Warung Jambu.

“Mereka yang terjaring langsung dikirim ke Dinas Sosial untuk didata dan diberikan pembinaan selama enam bulan di rumah pembinaan,” kata Bugi.

Penertiban PSK sesuai dengan Perda nomor 8/2006 tentang ketertiban umum dan tidak asusila.

Selain itu, Bugi mengatakan, penertiban dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat yang merasa gerah dengan keberadaan PSK tersebut.

Beberapa mereka yang diamankan petugas, ada yang pemain lama dan ada pula yang masih baru. Rata-rata usia mereka berkisar 22 hingga 30 tahun ke atas.

“Rata-rata mereka semua sudah memiliki suami, alasan mereka menjadi PSK selain karena lagu lama yakni tuntutan ekonomi, ada juga karena penyakit hiper sex, dikecekawan oleh suami,” katanya.

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X