Sentra beras Jabar terancam rawan pangan

antara

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Sentra penghasil beras di Jawa Barat terancam rawan pangan dibanding daerah lain yang tergolong konsumen beras di provinsi tersebut karena pola distribusi dan alih fungsi lahan.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI Jabar) Entang Sastraatmadja mengatakan sebetulnya Jabar pada tahun ini mengalami surplus beras sebanyak 2,2 juta ton.  Namun, sentra penghasil beras a.l Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Subang justru masih terkena defisit beras.

“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara spasial tapi harus sistemik. Alih fungsi lahan yang semakin marak dan pola distribusi di mana kepemilikan sawah di sana 70% oleh warga perkotaan membuat daerah-daerah tersebut justru menjadi konsumen beras,” katanya hari ini.

Kepemilikan lahan yang didominasi oleh warga kota lain, bukan oleh petani setempat itulah, lanjutnya yang membuat daerah tersebut cenderung kekurangan beras.

“90% petani di sana adalah petani  gurem dan  buruh tani yang kepemilikan lahannya masih sekitar 0,25 hektare. Tidak ada kedaulatan petani  di sana.  Dan, orang-orang perkotaan cenderung mendistribusikan produksi langsung ke luar Jabar,” katanya.

HKTI mencatat produksi beras Jabar pada tahun ini sebanyak 6,9 juta ton dengan konsumsi masyarakatnya sebesar 4,7 juta ton.  Ketiga daerah penghasil beras tersebut merupakan kontributor terbesar untuk produksi beras di Jabar.

Kabupaten Indramayu dapat menghasilkan 1,4 juta ton gabah kering giling (GKG), Karawang sebanyak 1,3 juta ton GKG, dan Subang sekitar 900 GKG.

Menyoroti alih fungsi lahan, Entang mencontohkan daerah Karawang. Di Kabupaten tersebut sebentar lagi akan dibangun bandara internasional yang memakan banyak areal persawahan.

Sebetulnya, sambung dia,pemerintah kabupaten/kota dapat membuat kebijakan yang mendukung lahan-lahan persawahan agar tidak tergerus oleh pembangunan.

“Kita punya UU No 41 tahun 2009 tapi itu tidak pernah ditindaklanjuti oleh peraturan daerah (perda kabupaten/kota). Pemerintah provinsi juga sebenarnya bisa saja membuat himbauan kepada pemda untuk menjadi lahan sawah sebagai lahan abadi,” paparnya.(fsi)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X