Tren kelompok hobi lempar pisau Bandung

Sabtu sore itu, puluhan orang berjajar membidik sasaran di belakang gedung Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Sasaran itu berupa potongan batang pohon yang berbentuk lingkaran.

Masing-masing orang memegang pisau tanpa gagang yang memiliki panjang sekitar 30 cm dengan lebar sekitar 10 cm. Adapula beberapa orang yang menggunakan kapak dengan panjang sekitar 40 cm.

Silih berganti mereka melemparkan pisau demi pisau menuju bidikan yang berjarak 3—4 meter dari tempat berpijak mereka. Bidikan itu dipasang menggunakan penyanggah yang dibuat sederhana berbahan kayu.

Pelemparan dianggap berhasil apabila pisau tersebut menancap pada sasaran. Sang pisau pun menyeruak kemana-mana. Ada yang menempel kuat di bidikan. Adapula yang berhamburan di rumput karena tak punya daya untuk menempel di bidikan.

Dengan terlatih, mereka beberapa kali memain-mainkan senjata tajam itu. Aksi mereka itu sangat berbahaya. Itu terlihat sangat mengerikan bagi orang yang jarang menyaksikannya, apalagi bagi orang yang belum pernah memainkannya.

Tontonan itu jadi mengingatkan saya pada aksi-aksi berbahaya Rambo (Sylvester Gardenzio Stallone) dalam beberapa film yang dibintangi aktor asal Amerika Serikat itu.

Pisau diidentikkan dengan barang-barang yang sangat membahayakan. Oleh karena itu, jika digunakan bukan pada tempatnya, senjata tajam itu dianggap melanggar hukum.

Namun, ada komunitas yang justru memanfaatkan senjata itu sebagai salah satu olahraga. Olahraga ekstrem tentunya. Nama komunitasnya pun terkesan sangat seram, yakni D’Lempar Pisau.

Komunitas lempar pisau memang sangat langka ditemui di Tanah Air. Mayoritas anggota masyarakat sepertinya tak ingin mengambil risiko sehingga enggan bermain-main dengan senjata tajam itu.

Namun jangan salah, ternyata komunitas itu telah masuk ke Indonesia sejak puluhan tahun lalu, meski yang meminatinya masih sangat minim. Masuknya olahraga lempar pisau itu disebabkan pengaruh dari bangsa Amerika dan Eropa.

“Sebenarnya lempar pisau sudah lama masuk ke sini, tapi sangat sedikit orang yang tahu. Bagi bangsa Amerika dan Eropa ini [lempar pisau] sudah biasa,” ujar Ellen Ramlan, Koordinator D’Lempar Pisau, saat ditemui Bisnis di lokasi latihan beberapa waktu ini.

Dia bercerita, komunitas yang diikutinya itu berdiri pada 1988 atau ketika dia dan teman-temannya kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Aktivitas latihan yang dilakukan pun tidak begitu intens. Komunitas secara resmi juga belum terbentuk. Meskipun demikian, latihan rutin telah dilakukan setiap minggu semasa kuliah dan lulus.

“Pembentukan komunitas itu bermula dari rasa ingin berbeda daripada yang lain. Latihan terus dilakukan hingga kami lulus, meski latihan ketika lulus itu secara individual,” tutur pria berambut panjang ini.

Pada awal terbentuknya komunitas itu, mereka hanya mengenal teknik melempar pisau secara militer. Dalam perjalanannya bertahun-tahun dan didukung oleh jaringan informasi Internet, akhirnya mereka menemukan teknik melempar pisau yang lain, yakni sport kompetisi.

Ada yang berbeda dari dua teknik melempar pisau itu. Pada teknik militer, pisau yang digunakan adalah pisau yang disertai gagang—seperti halnya pisau yang sering digunakan tentara—sehingga kondisi lebih berat di bagian gagang. Adapun pada teknik sport kompetisi, pisau yang digunakan adalah pisau tanpa gagang sehingga berat pisau berada pada bagian depan (bagian tajam).

Cara melempar dari kedua teknik itu pun memiliki perbedaan. Untuk militer, saat akan melempar, si pelempar harus memegang bagian depan pisau (bagian tajam) karena pisau militer menggunakan prinsip setengah lingkaran (spin) di udara—ketika dilempar menuju sasaran.

Adapun pada teknik sport kompetisi, pisau harus dipegang pada bagian belakang karena senjata itu akan berputar di udara sebesar 180 derajat saat dilempar menuju sasaran.

Setiap orang memiliki jarak efektif yang berbeda-beda untuk bisa mendapatkan lemparan yang bagus karena beberapa faktor, di antaranya cara melempar, jangkauan tangan, dan kekuatan lemparan.

“Jarak lempar efektif untuk pisau yang memiliki panjang 30 cm—40 cm adalah sekitar 3 meter hingga 4 meter,” jelasnya.

Lemparan pisau dengan banyak putaran di udara hanya ada di film-film saja, sedangkan faktanya putaran lemparan pisau di udara hanya berkisar antara setengah putaran (180 derajat) hingga 2 putaran (2 x 360 derajat).

Untuk informasi lebih lanjut, silakan datang ke kampus Itenas Bandung, Jalan PHH Mustofa 23 Bandung, contact person Ellen Ramlan (0878 2207 8415).(hh)

Tag Terkait

3 Komentar untuk Tren kelompok hobi lempar pisau Bandung

  1. Saya sangat tertarik dan ingin bekerjasama, bisa hubungi saya di 081384794026, ditunggu terimakasih

  2. alhamdulillah…nuhun pisan…:))

  3. Thanks banget….:)

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X