UJIAN NASIONAL: Keterlambatan Jangan Dianggap Biasa

CIANJUR–Masalah kelambatan distribusi soal ujian nasional SLTA baru-baru ini jangan dianggap biasa, namun bisa disebut sebagai keadaan darurat pendidikan Indonesia, kata Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Prof Dr Bambang Wibawarta.

Dalam seminar bertemu “Etnisitas dan Identitas Bangsa” di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu, Bambang mengatakan semua pihak layak prihatin terhadap masalah tersebut.

“Ini hal yang luar biasa dalam dunia pendidikan kita. Negara kita sekarang sedang dalam situasi darurat pendidikan,” katanya.

Kemendiknas terbukti tidak bisa mengatasi masalah tersebut sendirian. “Syukur ada bantuan berbagai pihak, termasuk dari TNI Angkatan Laut yang ikut membantu mendistribusikan soal-soal UN itu ke daerah-daerah pelosok,” ujar Bambang.

Kasus ujian nasional yang kacau saat ini, menurut dia, juga merupakan salah satu masalah budaya.

Pendidikan adalah bagian dari budaya. “Seringkali terjadi salah kaprah. Budaya hanya dikaitkan dengan kesenian dan tari-tarian.Buku-buku ajar kebudayaan yang dipakai di sekolah-sekolah saat ini sebagian besar isinya soal kesenian.┬áPadahal budaya bukan hanya kesenian,” ujarnya.

Bambang juga menyoroti bidang kebudayaan yang setelah dua tahun kembali digabung dengan pendidikan di kabinet oleh pemerintah, belum terlihat kemajuan yang berarti.

Seminar sehari tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kalangan.

Di antaranya Komandan Seskoal Laksda TNI DA Mamahit, Kapuspen TNI AL Laksma Untung Suropati, Dirut LKBN Antara Saiful Hadi, dan pakar budaya UI Prof Dr Benny Hoed.

Salah satu hal yang mencuat dalam diskusi tersebut adalah mengenai perlunya melihat sejarah masa lalu untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

“Kita tahu di nusantara sebelum Indonesia lahir ada kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Para ahli harus pelajari sebenarnya apa yang menyebabkan kerajaan-kerajaan itu hancur dan tidak berlanjut,” kata Untung Surapati.

Hal tersebut sangat penting agar kesalahan yang terjadi pada kerajaan-kerajaan tersebut tidak terulang di masa NKRI saat ini.

Sementara itu Laksda Mamahit mencontohkan Kesultanan Ternate, yang meskipun wilayahnya tidak sebesar Sriwijaya dan Majapahit, namun bisa langgeng hingga berumur 800 tahun sampai sekarang.

Menurut Mamahit Kesultanan Ternate bisa langgeng karena mempertahankan nilai-nilai maritim, dan juga mengendepankan kepakaran ketimbang nepotisme dalam pergantian kepemimpinan.(antara/k29/yri)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X