Wisatawan keluhkan kualitas money changer

BANDUNG (bisnisjabar.com): Pelaku usaha wisata di Jawa Barat me­ngeluhkan kualitas dan kuantitas perusahaan penukaran uang (money changer) karena dinilai tidak mampu memberikan pelayanan secara maksimal.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalan­an Wisata Indonesia (Asita) Jawa Barat Herman Rukmanadi me­nga­takan jika permasalahan ini tidak segera diperbaiki, hal itu bisa menjadi kendala promosi wisata provinsi ini ke luar negeri.
Padahal, pengusaha sektor pariwisata di Jabar sedang menggalakan promosi ke luar negeri.
“Kika kondisinya seperti ini terus, Jawa Barat akan sulit bersaing dengan kota dan negara-negara yang lain,” katanya kepada bisnisjabar.com, kemarin.
Menurut dia, kualitas  money changer yang ada saat ini memiliki kualitas relatif kurang baik, misalnya dari segi pela­yanan maupun penentuan lokasi.
Dia mencontohkan dari segi pela­yanan, nilai jual dan beli yang ditawarkan tempat penukaran uang di Bandung lebih rendah daripada di luar negeri.
“Dengan demikian, salah satu persoalan ini menjadi hambatan di sektor pariwisata,” ujarnya.
Di samping itu,  penentuan lokasi money changer juga menjadi sorotan pelaku usaha wisata di Jawa Barat.
Selama ini, mayoritas tempat penukaran uang terdapat di beberapa titik saja, seperti di Jalan Ir H Djuanda (Dago), Jalan Asia Afrika, dan sejumlah titik  lainnya.
Padahal, money changer sebaik­nya disediakan di tempat-tempat pertama kali wisatawan tiba, seperti di bandara. Untuk itu, Asita Jawa Barat meminta kepada pemerintah daerah segera menyelesaikan masalah ini.
Apalagi, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara dalam beberapa bulan ini meningkat tajam bila dibandingkan dengan tahun lalu, terutama yang berasal dari Malaysia.
Jumlah minim
Bobby, General Manager toko kain Chand Moda di Pasar Baru Trade Center Bandung, mengungkapkan  pihaknya selama ini menerima transaksi dengan  Ringgit Malaysia dan US$.
Menurut dia,  tempat penukaran mata uang sebenarnya tersedia di Pasar Baru Trade Center, tetapi  banyak wisatawan yang mengeluhkan pelayanannya, mulai dari nilai jual dan beli yang lebih rendah daripada di luar negeri hingga tempat yang terkesan tak terurus.
“Kami meminta kepada pemerintah untuk membenahi masalah ini karena tingkat kunjungan wisatawan ke Pasar Baru terus tinggi, terutama saat akhir pekan,” ujarnya.
Chairiah, General Manager PT Karya Samarga–pengelola Cihampelas Walk (Ciwalk)–Bandung, mengemukakan kebutuhan tempat penukaran uang juga dirasakan pusat perbelanjaan di Bandung, seperti di Ciwalk.
Dia mengaku pusat perbelanjaan tersebut hingga saat ini belum memiliki money changer.
Hal itu karena manajemen Ciwalk belum menemukan perusahaan penukaran uang yang sesuai dengan jam operasional mal.
Prima Sasmitapura, Currency Stra­tegist PT Trivanza Mandiri-money changer di Bandung mengatakan jumlah wisatawan mancanegara yang menjual mata uang negaranya di Bandung relatif sedikit.
Dia mengatakan karakteristik Kota Bandung tidak seperti destinasi wisata lain, misalnya Bali dan Yogyakarta yang transaksi jual-beli mata uang asingnya tinggi.
“Rata-rata wisman yang datang ke Bandung merupakan wisman asal Malaysia yang berniat berbelanja. Alhasil, nominal transaksinya terbatas,” katanya.
Selain itu, kata dia, transaksi jual-beli mata uang asing dari wisman tidak stabil setiap bulannya.
Prima mencontohkan, permintaan jual ringgit dari wisman Malaysia cukup tinggi menjelang Idulfitri. Namun, pada Juli, transaksi yang mendominasi ialah jual-beli mata uang negara Eropa. (Roberto Purba/Sirojul Muttaqien/Ajijah)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X