MANADO: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulawesi Utara (Sulut) minta Pertamina mengoptimalkan suplai elpiji baik bersubsidi maupun non subsidi, sehingga tidak terjadi kekosongan di masyarakat.
“Pertamina supaya mengoptimalkan distribusi elpiji sehingga tetap tersedia di masyarakat, karena jika kondisi ini terus berlangsung berarti pembohongan publik,” kata Ketua YLKI Sulut, Aldy Lumingkewas di Manado, Kamis.
Aldy mengatakan, laporan masyarakat, elpiji bersubsidi semakin sulit didapat masyarakat Manado, ini sangat berlawanan dengan program pemerintah yang justru mulai mengalihkan penggunaan minyak tanah ke elpiji.
“Seharusnya elpiji harus sudah tersedia secara cukup di pasaran, baru kemudian dilaksanakan program konversi,” kata Aldy.
Menghadapi kemungkinan terjadinya kekosongan bahan bakar tersebut di masyarakat, maka Aldy meminta Pertamina untuk tetap mempertahankan distribusi minyak tanah di pangkalan.
“Kita khawatirkan kalau terjadi kekosongan elpiji dan minyak tanah, karena berarti masyarakat tidak bisa memasak bahan kebutuhan pangan, olehnya minyak tanah supaya tetap disalurkan sebagaimana kebutuhan,” kata Aldy.
Sejumlah warga Manado mengeluhkan, masih sulit mendapat elpiji bersubsidi isi tiga kilogram (KG).
“Elpiji tabung isi tiga Kg tidak tersedia cukup di pengecer, terpaksa masyarakat harus mengeluarkan biaya transpor lebih, karena harus membeli langsung ke distributor,” kata Johana, warga Tuminting Manado.
Sales Area Manager BBM Retail Pertamina Manado, Irwansyah mengakui, masalah distribusi elpiji masih kurang optimal, karena itu Pertamina masih memperpanjang penyaluran minyak tanah bersubsidi di pangkalan.
“Minyak tanah bersubsidi sebenarnya kita tarik mulai 1 Februari 2012 di pasaran, tetapi karena elpiji sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah tersebut belum optimal, maka distribusi ke pangkalan diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan, menunggu kesiapan Gas Domestik,” kata Irwansyah.(fsi)