Ada yang heboh dari Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se-Indonesia, yang diselenggarakan di Bali, 13-14 Juni. Repotnya, kehebohan itu bukan soal berita, melainkan tentang kondom.
Wah, para pemred dibagikan kondom? Betul. Di goody bag untuk para peserta pertemuan, kondom itu terselip di antara aneka barang promosi. Wartawan yang meliput acara pun ‘gatal’, ramailah di berita-berita online dalam waktu seketika alias realtime.
Maka, hebohlah masyarakat dunia maya dan penduduk sosial media. Aneka respons muncul atas kejadian itu, bahkan ada yang menulis di akun twitter: “Ini bukan Forum Pemred, tapi Forum Kampret…”
Dan, di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memberikan keynote speech saat sesi penutupan, Ketua Forum Pemred Wahyu Muryadi, yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, sempat berseloroh panjang lebar soal kondom itu, yang membuat acara penutupan penuh gelak.
Lha kok kondom bisa muncul? Begitu pertanyaan yang menyeruak ke permukaan. Adalah Ismeth Hasan Putro, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia atau RNI, yang punya ‘ulah’. Ismeth, yang menjadi salah satu pembicara pada panel diskusi tentang Ketahanan Pangan, pun buka rahasia.
Rupanya, ia ingin agar kondom buatan PT RNI tersebut dikenal dan laku, di tengah gempuran produk impor. “Masak hampir 80% kondom yang dipakai di Indonesia adalah barang impor,” begitu kilah anak buah Menteri BUMN Dahlan Iskan itu.
Seperti setali tiga uang, Ismeth seperti mewarisi ‘ulah’ Dahlan yang suka kontroversi. Maka diselipkanlah kondom ke dalam goody bag yang dibagikan kepada para peserta, selain beberapa barang promosi lainnya. Dan berhasil.
Sontak saja, kondom merek “M….” itu tiba-tiba menjadi bahan gunjingan dan perbincangan di arena acara maupun di kalangan penduduk media sosial.
***
Bagi saya, ini kejelian yang luarbiasa. Terlepas berbagai efek persepsional yang dihasilkan dari “numpang promosi kondom” itu, upaya kecil Dirut RNI tersebut, jitu mengoptimalkan kesempatan.
Melalui promosi kondom, Ismeth, yang tergolong baru di lingkungan eksekutif puncak BUMN, telah menjalankan spirit entrepreneurship tulen.
Ia berhasil memanfaatkan sebuah forum yang tak biasa, dan rentan sorotan, untuk melakukan promosi yang praktis, murah tetapi efektif, dan tentu saja buntutnya kontroversial. Bagi praktisi komunikasi, itulah yang diinginkan.
Seperti boss-nya, Dahlan Iskan, Ismeth cenderung berani “nyerempet-nyerempet bahaya”. Alhasil, keputusan Ismeth menyelipkan kondom di paket promosi RNI itu menjadikan produk BUMN tersebut menjadi lebih dikenal.
Tanpa harus banyak belanja iklan di televisi, tetapi melalui strategi komunikasi -dan sebagai mantan wartawan di Jawa Pos, saya yakin Ismeth tahu hal itu akan menjadi bahan berita- produk yang dijualnya mampu menembus ruang perbincangan publik, setidaknya di kalangan new media dan media sosial.
Apalagi, media sosial kini sudah menjadi mesin persepsi yang luar biasa. Maka, kalau RNI diuntungkan karena khalayak makin tahu ada kondom merek “M”, sebaliknya yang kena getahnya adalah Forum Pemred, karena dipersepsikan sebaliknya karena ‘ulah’ Ismeth itu.
Lantas apa kata Wahyu, ketua Forum Pemred? “Tak usah terlalu dirisaukan. Itu biasa, ada yang melihat miring ada yang melihat positif,” ujarnya.
***
Yang pasti, ulah Ismeth itu mengingatkan saya pada pertanyaan, apakah sejatinya entrepreneur itu dilahirkan atau dibentuk?
Jawabannya bisa seragam, tapi juga dapat beragam. Soal itu, coba deh tanya Pak Ciputra, yang di usia senjanya kini banyak memberikan advise tentang entrepreneurship.
Dalam berbagai argumentasinya, serta berdasarkan pengalaman bisnisnya, Pak Ci tidak akan pernah setuju jika dibilang entrepreneur itu dilahirkan semata.
Ia haruslah dibentuk: Dilatih, berani ambil risiko, dan mau jatuh bangun. Mungkin hanya 1 keberhasilan dari 1.000 usaha, yang berarti terdapat 999 kegagalan. Berani mencoba, karena tanpa mencoba tak akan pernah tahu, apakah bakal gagal atau berhasil.
Untuk itulah Pak Ci membuat Ciputra Entrepreneurship, yang mengajarkan teknik, kiat dan praktik kewirausahaan, bahkan untuk para guru, dan, jangan kaget: TKI, istilah bagi tenaga kerja indonesia yang dianggap sebagai warga kelas tiga di luar negeri.
Maka, spirit entrepreneurship menjadi seperti virus; ia berkembang biak ke mana-mana. Bukan soal lagi apakah keturunan pengusaha, kemenakan konglomerat, anak petani atau bahkan pembantu rumahtangga, kini semua bisa tiba-tiba menjadi entrepreneur, atau setidaknya memiliki spirit entrepreneurship.
***
Maka, jika Forum Pemred menggagas Pertemuan Puncak untuk membangun Indonesia Perkasa, contoh kecil seperti cerita promosi kondom ala Ismeth bisa menjadi sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan oleh BUMN yang lain.
Dan, CEO seperti Ismeth, adalah salah satunya. Berani ambil keputusan, berani ambil risiko. Itulah watak sejati entrepreneur, sehingga mampu membalik perusahaan rugi menjadi untung.
Ismeth tentu bukan satu-satunya. Banyak contoh lain dari para CEO yang menjalankan model bisnis hebat di BUMN.
Sebutlah Ignatius Jonan, Dirut PT Kereta Api Indonesia. Dengan segala keputusannya yang kerap kontroversial, berani menghadapi risiko, Jonan pun mampu membalik buku PT KAI dari merah menjadi biru. Buat saya, ia adalah entrepreneur sejati.
Contoh lainnya adalah Dirut Bank Rakyat Indonesia Sofyan Basyir. Mimpinya mengubah BRI dari bank desa menjadi bank kota pun menjadi kenyataan. Ini karena keberaniannya mengubah model bisnis, dan mengubah pendekatan.
Ia juga adalah entrepreneur sejati. “Biarlah BRI adalah bank ndeso, tetapi rejekinya rejeki kota,” katanya tanpa tedeng aling-aling.
Sofyan Basir layak mengatakan itu, mengingat bank pelat merah tersebut mengantungi untung paling besar di industri perbankan saat ini. Angkanya fantastis, hampir US$2 miliar!
Itu sekadar contoh, untuk tidak memperpanjang daftar. Maka, siapa bilang BUMN tak patut diperhitungkan?
***
Untuk membuat “Indonesia yang perkasa”, tentu tidak hanya BUMN saja yang perlu dipoles supaya punya intuisi bisnis yang lebih tajam. Dan, terlebih lagi, bukan hanya intuisi bisnis saja, tetapi juga penyelenggaraan dan pengelolaan institusi yang lebih baik.
Bagi Indonesia, yang sedang menata sistem politik dan demokrasi yang perlu lebih matang dan stabil, pernyataan semacam itu kelihatannya klasik tetapi amat diperlukan.
Ismeth, Jonan, Sofyan dan banyak pemimpin puncak BUMN lainnya mungkin tak akan memiliki keleluasaan bergerak jika lingkungan politik dan demokrasinya kian kotor.
Di masa lalu, istilah yang kerap muncul adalah cash-cow atau sapi perah. Maka sekarang muncul aneka macam praktik transaksional, yang mudah-mudahan saja tidak berkembang menjadi virus negatif seperti semangat entrepreneurship yang menjadi virus positif.
Platform kebijakan yang mendukung, lingkungan sosial yang kondusif, dan demokrasi yang sehat, tentu merupakan pilihan yang mungkin. Maka para aktor yang menjadi penghubungnya juga haruslah memiliki spirit yang sama untuk membentuk apa yang disebut Indonesia incorporated.
Untuk hal itu saya suka dengan satu istilah yang dilontarkan seorang sahabat yang kini berkantor di kawasan Istana Kepresidenan: Indonesia butuh peran yang lebih besar dari para honest broker.
Ia adalah orang yang dapat berperan positif untuk mempertemukan berbagai kelompok kepentingan dengan satu tujuan: mencapai hasil yang lebih baik, optimal dan positif bagi kepentingan nasional.
Ia, tentu saja, bukan orang yang mengambil untung dari perbedaan kepentingan, apalagi memburu rente dari kebijakan yang merugikan masyarakat, demi keuntungan kelompok atau pribadi. Bagaimana menurut Anda?
(JIBI/k29/yri)