JAKARTA (bisnis-jabar.com): Boleh-boleh saja Australia mengaku-aku pembela hak asasi manusia, namun perlakuan mereka atas para pengungsi patut dipertanyakan. Salah satunya membuat para pengungsi kecanduan obat penenang.
Seperti dikutip dari ABC.net.au obat resep diperdagangkan diantara pencari suaka yang mengakibatkan mereka menjadi kecanduan obat penenang, obat tidur dan obat penghilang rasa sakit.
Penyalahgunaan obat-obatan memerangi stres dan insomnia diantara tahanan marak terjadi akibat tingginya tingkat stres pencari suaka yang menunggu untuk mendengar apakah permintaan suaka mereka akan dikabulkan.
Seorang pengungsi yang menghabiskan hampir dua tahun dalam tahanan mengatakan pil, yang diberikan oleh otoritas medis di pusat penahanan membuat tahanan “seperti robot” dan membuat mereka terjebak masalah kecanduan saat mereka dilepaskan ke masyarakat.
Habibullah pengungsi Afghanistan yang mendapat suaka dua bulan lalu setelah 15 bulan dalam tahanan di Pulau Christmas dan di Curtin menjadi kecanduan obat penenang yang didistribusikan pihak berwenang.
“Ketika seseorang pergi ke dokter mereka memberikan obat-obatan, mereka sering menjadi kecanduan obat-obatan itu dan mendapatkan obat lebih banyak, mengambilnya dan memberikannya kepada teman mereka,” kata pengungsi berusia 28 tahun itu..
Habibullah mengatakan stres dan ketidakpastian situasi menjadi faktor yang membuat pencari suaka begitu banyak memerlukan pengobatan yang berkelanjutan.(fsi)