Bisnis-jabar.com, BANDARLAMPUNG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung mengingatkan bahwa Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan seperti mentradisi untuk kemudian tampil identik dengan serba-baru.
“Memang benar setiap umat Islam pada hari tersebut diharapkan telah kembali kepada fitrahnya semula sebagai manusia yang suci, tapi hal itu tidak identik dengan serba-baru yang dilakukan dengan cara menghambur-hamburkan uang yang dimiliki,” ujar Ketua MUI Bandarlampung Mawardi AS, Jumat.
Dia mengingatkan, sudah sepatutnya dengan kondisi saat ini yang penuh dengan keprihatinan, masyarakat kita dapat hidup tidak dengan cara yang berlebih-lebihan apalagi sampai menghambur-hamburkan uang untuk keperluang yang kurang baik, dan seharusnya membeli segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan semata.
“Kalau sudah berlebihan jatuhnya menjadi mubazir, dan mubazir itu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT,” kata dia lagi.
Fenomena masyarakat kita menjelang Idul Fitri, biasanya selalu memadati pasar-pasar tradisional dan pusat perbelanjaan dibandingkan memperbanyak ibadah dan tindakan sosial yang berdampak bagi sesama di lingkungan masing-masing.
Akibatnya, umumnya pasar tradisional dan pusat perbelanjaan itu selalu dipadati konsumen beberapa hari menjelang Lebaran.
Kepadatan konsumen itu, umumnya bertujuan untuk membeli berbagai keperluan untuk berlebaran.
“Saya ingin membeli baju baru untuk dipakai saat Shalat Idul Fitri, dan memang luar biasa kondisi di Pasar Bambu Kuning Bandarlampung yang padat sekali beberapa hari menjelang Lebaran ini, sampai sulit rasanya untuk bernapas,” kata Wiwik (35), salah satu warga Bandarlampung saat berada di Pasar Bambu Kuning, beberapa hari menjelang Lebaran itu pula.
Selain berbelanja untuk membeli pakaian serba-baru, menyajikan menu makanan yang istimewa saat Idul Fitri adalah tradisi umat Islam umumnya.
Puji (45), salah satu pedagang busana muslim mengaku dagangannya selalu habis diborong pembeli menjelang Lebaran.
“Dagangan saya mulai laris-larisnya sejak dua bulan mau puasa, dan sampai beberapa hari menjelang Lebaran, pembeli yang datang ke toko saya tak henti-hentinya,” katanya mengakui.
Ia menyebutkan, dalam sehari dapat meraup omzet dagangan busana muslim mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta.
“Alhamdulillah rezeki pedagang busana di bulan puasa hingga Lebaran terus meningkat,” ujarnya pula.
Selain meraup keuntungan besar bagi para pedagang pakaian dan makanan itu, momentum puasa Ramadhan juga memberikan kebahagiaan tersendiri pagi para tukang parkir.
Setiap satu sepeda motor parkir, menjelang Lebaran itu di sejumlah pasar tradisional dan swalayan di Bandarlampung dikenakan tarif Rp2.000 sekali parkir.
Dalam sehari, Yanto (30), salah satu petugas parkir itu, mengaku bisa menarik uang parkir dari 80-150 unit sepeda motor yang diparkirkan di kawasan Pasar Tugu Bandarlampung.
Diperkirakan Yanto mampu mengantongi uang sebesar Rp300.000 per hari. Menurut Yanto, penghasilan dari jasa parkir itu lebih dari mencukupi untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari.(Antara/fsi)
Recent Comments