Manajemen rantai pasok inklusif yang dibuat oleh Tomy Perdana, Kepala Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, meningkatkan pendapatan petani. Model manajemen ini dilakukan dengan melibatkan petani kecil. Tomy menjelaskan bahwa petani kecil terbilang masih sulit untuk bisa mengekspor hasil pertaniannya, dengan lahan dan produksinya yang masih kecil.
Manajemen rantai pasok inklusif pun dibuat oleh Tony dan menjadi paradigma bisnis yang diterapkan oleh petani dan pasar. Tantangan yang dihadapi dalam menjalankan manajemen rantai pasok adalah konsistensi kuantitas (jumlah produksi dan pasokan) dan kualitas yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
Bisnis-jabar.com, BANDUNG-Sistem manajemen pemasaran hasil pertanian rata-rata menggunakan sistem bertingkat, yaitu dari ritel, pedagang pengumpul (suplier), pengumpul bandar, pengumpul kecil, kelompok petani, dan petani. Banyaknya aktor dan transaksi tersebut membuat petani dan konsumen merugi.
Terkait sistem pemasaran itu, Tomy membuat restrukturisasi rantai pasok, yaitu bagaimana produsen berhubungan langsung dengan pembeli. “Misalnya dalam transaksi jual beli hasil pertanian, diperpendek dari tujuh pelaku dipangkas jadi dua pelaku atau maksimal tiga pelaku yang melakukan transaksi yaitu petani, distributor, dan pasar,” jelas Tomy, Kamis (13/2).
Tomy menjelaskan dengan sistem manajemen rantai pasok ini dapat membuka harga pasar dari hulu ke hilir. Petani dapat mengetahui harga barang di pasaran, sehingga dapat menjual hasil taninya dengan harga yang sesuai. (m01/k29)
Recent Comments