Tak sulit menebak tempat apa yang ingin dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara saat berkunjung ke Bandung. Pasti jawabannya tak jauh dari factory outlet, café, dan wisata alam. Perlu bukti? Lihat saja kemacetan yang mengular menuju tempat-tempat tadi pada akhir pekan. Lalu bagaimana nasib banyak tempat bersejarah di Jabar, seperti museum? Diminati juga kah?
Suatu siang pada pertengahan Februari, Museum Mandala Wangsit Siliwangi sunyi senyap. Hanya enam pengunjung yang memadati gedung seluas 4.176 m2 tersebut. Sangking senyapnya, perbincangan pengunjung lain dapat didengar dengan jelas. Jika datang lebih pagi, museum ini malah bisa diibaratkan museum pribadi karena jumlah pengunjung jauh lebih sedikit.
Padahal, museum yang diresmikan pada 23 Mei 1966 itu jaraknya hanya sepelemparan batu dari kawasan Braga, tempat nongkrong tersohor di Bandung yang selalu padat wisatawan domestik dan asing pada akhir pekan. Di berseberangan museum juga berdiri sebuah hotel yang menjadi langganan para wisatawan. Namun, begitulah, Museum Mandala Wangsit Siliwangi ibarat tertimbun di antara café, mall, dan hotel megah di sekitarnya.
“Soalnya serem sih museum ini, penerangannya kurang,” kata Gustriana Mukti, seorang mahasiswa yang siang itu berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi.
Kondisi museum yang terletak di Jalan Lembong ini memang jauh dari kata menarik. Pencahayaan pada siang maupun malam hari hanya mengandalkan lampu-lampu berdaya kecil. Tak ada jendela atau kaca sebagai tempat menyusupnya matahari. Sirkulasi udara pun kurang karena minimnya jumlah jendela di dalam museum. Bagi seorang anak muda seperti Gustriana, kondisi Museum Mandala Wangsit SIliwangi semakin memperjelas citra museum sebagai tempat yang kuno dan menyeramkan.
“Lantainya juga kurang bersih, banyak debu di beberapa koleksi museum, seperti di bingkai lukisan. Bahkan sejumlah bingkai lukisan sudah keropos,” ujar Gustriana setelah 15 menit berkeliling museum.
Padahal, benda-benda dalam Museum Mandala Wangsit Siliwangi, seperti senjata tradisioanl dan senjata api, menjadi saksi sejarah perjuangan Divisi Siliwangi dan masyarakat Jawa Barat. Selain beberapa senjata, ada pula seragam dan pakaian yang digunakan beberapa tokoh Jabar pada era kemerdekaan.
Sejumlah lukisan yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting selama 1918 hingga 1945 terpajang di kanan dan kiri dinding. Sayang, debu yang membalut bingkai lukisan dan kondisi bingkai yang keropos mengurangi estetika lukisan.
Debu juga melapisi senjata-senjata api produksi 1980-an yang disimpan berbuka tanpa pelindung kaca. Beberapa senjata bahkan terkelupas karena dimakan usia.
Bukan saja kurang terawat, museum ini juga minim pemandu yang dapat memberi penjelasan sejarah terkait koleksi-koleksi dalam museum. Gustriana dan para pengunjung lain hanya mengandalkan keterangan dari secarik kertas yang tertempel di depan koleksi museum. Selain itu, tak ada petunjuk arah yang dapat memandu para pengunjung di dalam museum.
Dana Minim
Rupanya, penyebab kurang perawatan koleksi Museum Mandala Wangsit Siliwangi disebabkan keterbatasan dana. Pengatur Pemeliharaan dan Perawatan Koleksi Musem Mandala Wangsit Siliwangi Oih Solihudin menuturkan biaya perawatan museum sangat tergantung pada penjualan tiket masuk yang hanya Rp2.500 perorang, sedangkan jumlah pengunjung perbulan cuma 500 orang hingga 1.500 orang.
“Biaya perawatan koleksi otomatis disesuaikan dengan pemasukan yang ada,” katanya.
Dengan dana seadanya, perawatan koleksi berbahan kayu, kain, dan kulit hanya menggunakan alat sederhana seperti kemoceng. Cara ini tentu tak ampuh mengusir binatang pengenggat yang hinggap di bingkai-bingkai lukisan sehingga membuat bingkai lukisan keropos.
“Ada cara yang lebih ampuh, yakni dengan fumigasi, tetapi biayanya bisa sampai Rp15 juta untuk satu barang,” ujarnya.
Teknik fumigasi dilakukan dengan cara meletakkan benda ke dalam suatu wadah tertutup yang didalamnya telah disemprotkan zat kimia. Teknik ini dapat menghilangkan debu dan hewan pengengat tanpa merusak benda atau mengubah warna benda. Namun, dengan dana yang pas-pasan, teknik ini hanya sebatas teori bagi Oih sebagai pengelola museum.
Perawatan secara sederhana juga berlaku bagi koleksi museum yang terbuat dari besi, seperti senjata api. Oih mengatakan senjata-senjata api hanya diminyaki dengan oli seminggu sekali.
Sama halnya dengan perawatan, nasib promosi Museum Mandala Wangsit Siliwangi juga terganjal dana yang minip. Promosi yang dilakukan pengelola museum terbatas pada acara-acara tertentu yang dilakukan satu bulan sekali. Pihak museum juga sudah berhenti mempromosikan museum kepada sekolah-sekolah di Bandung sejak 1990-an. (k10/k29)
Recent Comments