SURABAYA - Komoditas impor, seperti gula rafinasi, beras dan daging yang dijual bebas di pasar, mengendurkan semangat petani berbudidaya sehingga berpotensi menggagalkan target swasembada pangan.
Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menguraikan melihat kecenderungan terakhir ada kemungkinan target swasembada gula, beras, daging, kedelai dan jagung akan direvisi. Apalagi, barang impor kelima komoditas itu menekan keinginan bercocok tanam petani.
“Mungkin kami usulkan revisi, mulai saat ini kami himpun informasi dari tiap kabupaten seperti apa daya dukungnya dan bagaimana kemungkinan bisa swasembada,” jelasnya seusai koordinasi persiapan Pekan Nasional Petani-Nelayan XIV di Gedung Grahadi Surabaya, Selasa (4/2/2014).
Menurutnya, tebu menjadi salah satu komoditas yang kurang menarik bagi petani karena harga jual gula murah. Lelang gula 2013 menghargai gula petani sekitar Rp8.500 per kilogram, sedangkan harga di pasaran sudah Rp11.700 per kilogram.
Banyaknya gula rafinasi, tuturnya, diduga menjadi penyebab tertekannya harga di tingkat petani. Terlebih pabrik gula rafinasi juga sudah didirikan. Kedua hal itu memengaruhi keinginan petani menanam gula.
Pemerintah memasang target produksi gula nasional pada 2014 sekitar 3,1 juta ton dari sebelumnya ditargetkan mencapai 5,7 juta ton.
Selain gula, kata Winarno, beras impor yang ditemukan di pasar juga menekan harga beras. Bila lazimnya harga beras lokal premium Rp9.000 per kilogram maka produk impor dengan kualitas setara dijual Rp7.700 per kilogram.
“Swasembada memungkinkan asal dirangsang dengan harga beli yang bagus. Tapi kondisinya terbalik petani ditekan dengan barang impor,” tambahnya.
Persoalan swasembada dan daya dukung petani itu akan dibahas khusus dalam Pekan Nasional Petani-Nelayan XIV di Malang, Jawa Timur, 7-11 Juli mendatang.(JIBI/k29)
Recent Comments