Istri dengan Penghasilan 20% Lebih Besar dari Suami Jauh dari Perceraian

financial express

Bisnis-jabar.com, BANDUNG - Akademisi mengatakan, seorang ibu yang memiliki pekerjaan cenderung suka menjaga keutuhan keluarganya jika ia memiliki penghasilan lebih besar dari suaminya.

Penelitian mereka mengatakan bahwa hal tersebut membuat kemungkinan perceraian mereka rendah ketimbang pasangan dengan suami yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari istri.

Penemuan tersebut berdasarkan survey yang dilakukan pada sekitar 4.000 pasangan di Inggris yang memiliki anak-anak berusia muda. Namun ada pula kontradiksi yang mengatakan sebaliknya.

Dr Shireen Kanji dari Universitas Leicester mengatakan, teori sosiologi dan ekonomi memiliki prediksi panjang bahwa ekonomi independensi seorang perempuan dalam hal ekonomi akan berdampak pada pernikahan.

Penelitian sebelumnya tentang pasangan menikah di Inggris justru mengatakan bahwa pernikahan dengan istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami akan rentan perceraian. Namun Dr Kanji mengatakan bahwa mereka menemukan teori tersebut tidak ditemukan pada pasangan yang memiliki usia sebaya di Inggris.

Studi tersebut diterbitkan pada jurnal sosiologi, mengikuti penelitian sebelumnya yang menemukan tingginya jumlah istri / ibu yang tidak ingin bekerja. Departemen Pendidikan melakukan survey yang menemukan bahwa lebih dari sepertiga ibu yang bekerja lebih suka tinggal di rumah bersama anak-anak mereka dan enam dari 10 ibu lebih memilih bekerja dengan jam yang lebih sedikit. Secara khusus, seorang ibu profesional lebih ingin menghabiskan waktu dengan anak-anaknya ketimbang pekerjaan.

Berdasarkan penemuan dari Dr Kanji dan koleganya, Dr Pia Schober dari Penelitian Ekonomi Institut Jerman, angka ibu yang berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya menurun tajam pada tahun pertama kelahiran anak.

Penghasilan ibu yang memperoleh 20% lebih dari sang suami turun dari enam persen menjadi 3,8% pada saat seorang anak berusia lima tahun. Angka dari orangtua yang memiliki penghasilan sama besar juga jatuh dari 11% menjadi 4,3% selama lima tahun sang anak.

“Penemuan kami menunjukkan bahwa penghasilan yang sama atau ibu sebagai pencari nafkah utama tidak memiliki pengaruh yang begitu besar pada hubungan, bahkan pada intensitas pengasuhan anak,” ujar Dr Kanji. (dailymail/m01/ija)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X