Ben Wirawan Angkat Bandung Lewat Kaus Kreatif

(tisyrin/bisnis-jabar)

Bandung dikenal sebagai kota kreatif. Di sana banyak lahir wirausaha muda handal di berbagai bidang salah satu yang cukup agresif adalah di industri kreatif clothing, khususnya t-shirt.

Banyak wirausaha muda yang menjadi besar dari industri kreatif pakaian jadi ini. Cirinya mereka memiliki konsep desain yang berkarakter, serta dinamis terhadap tren fashion, bahkan menciptakan tren mode tersendiri.

Salah satu entrepreneur kreatif tersebut adalah Ben Wirawan yang merupakan Direktur Maha Nagari, sekaligus peritis usaha dari merek Mahanagari sebagai merek kaus yang ‘Bandung Pisan’.

Ben mengasah daya kreatifnya sejak 1998 saat memperoleh beasiswa di Singapura. Banyaknya pelajar dari berbagai negara yang ikut pada program pendidikan tersebut, membuat Ben tertantang untuk menunjukan sesuatu yang menjadi identitas Kota Bandung.

“Sebenarnya ingin membanggakan diri sebagai warga Kota Bandung dengan tukar menukar kaus. Sayangnya, kaus yang dicari tidak ada dan hanya datang membawa sarung, mainan, wayang-wayangan,” katanya saat ditemui Bisnis pada awal Desember 2013.

Saat itu, Ben masih bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan retail. Dia mulai melihat potensi bisnis dari pembuatan kaus khas Kota Bandung.

Pada akhirnya, dia berani meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menggeluti bisnis kaus cinderamata khas dari kota yang berjuluk Paris Van Java. Momentum ini merupakan tonggak perkembangan usaha kausnya yang hingga saat ini dikenal dengan merek Mahanagari.

Bersama dengan kedua rekan kuliahnya, salah satunya adalah Hanafi Salman, Ben akhirnya mengumpulkan modal awal sekitar Rp5 juta untuk memproduksi dan menjual kaus yang didesain secara khusus sebagai barang oleh-oleh Bandung.

Konten budaya dan sejarah tentang Kota Bandung dipiih Ben dan kawan-kawannya, sebagai konsep awal untuk menjadi suatu identitas tersendiri.

Nama Mahanagari dipilih sebagai brand yang dicita-citakan dapat mengantarkan Indonesia atau Tanah Airnya sebagai sebuah negara yang besar.

Kala itu, Ben belum mendapatkan mitra yang menerima produknya. Sarjana Desain lulusan ITB ini terus berupaya menghampiri setiap perusahaan, kantor, dan tempat lainnya untuk menawarkan produk Mahanagari tersebut.

“Saya tidak memikirkan gelar sarjana saya. Ini saya lakukan untuk menunjukan bahwa produk kami potensial sebagai cindermata khas Bandung,” tuturnya.

Dua tempat yaitu Toko Sarinah di Jalan Braga Bandung, serta Toko Setiabudhi yang biasanya dikunjung turis Amerika Serikat dan Jepang menjadi sasarannya.

Kaus dianggap tetap menjadi produk bisnis retail yang sebenarnya sulit untuk dijalankan, namun belum adanya saingan bahkan benchmark kala itu membuat perusahaan ini terus-menerus menunjukan grafik pertumbuhan yang luar biasa.

Sayangnya keberuntungan Mahanagari tersebut hanya dapat dirasakan selama enam bulan. Bom Bali pada 12 Oktober 2002 secara tidak langsung mematahkan bisnis Ben.70% produk kaus Mahanagari yang dibanderol Rp50.000 waktu itu jelas terserap oleh turis asing dengan omzet awal perusahaan sekitar Rp4 juta per bulan.

Sesuai kesepakatan bersama, Ben akhirnya mencoba menidurkan bisnis Mahanagari yang dianggap tidak berputar atau kehilangan pasarnya secara totalitas. “Mahanagari sukses kehilangan pasarnya karena tidak ada lagi turis yang datang ke Bandung.”

Tidak hanya itu, bisnis tetaplah bisnis dimana cukup banyak terjadi suatu pemasalahan internal bagi perusahaan. Salah seorang kawan Ben juga akhirnya memilih untuk

melepas kepemilikannya di Mahanagari dan perusahaan yang terbilang masih kecil ini diambil alih oleh dirinya dan Hanafi. Awal 2003 hingga 2005, Mahanagari mati suri.

Pembangunan jalan tol dari Bandung menuju Jakarta pada 2005, menjadi momentum baru bagi Ben dan Hanafi yang sebelumnya kembali ke profesi awal mereka, yaitu desainer konsultan.

Peluang wisatawan baru meskipun memang tidak spesifik wisatawan mancanegara dari AS dan negara lainnya seperti sebelumnya, kembali hadir.

Bisa dikatakan Ben memulainya kembali Mahanagari versi duanya dari nol dengan mengumpulkan kembali modal dan mengusung konsep baru agar lebih menarik perhatian masyarakat lokal sendiri.

“Pada saat itu, kami mulai menghadirkan desain yang unik seperti jalur angkot Kota Bandung yang dibuat terbalik. Tugas kami saat itu bagaimana caranya membuat mereka yang suka Bandung, harus beli produk Mahanagari.”

Salah satu FO yang terletak di Jalan Dago adalah lapak pertama Mahanagari yang kembali bangkit tersebut.

Pasar yang lumayan bagus mulai dirasakan dan keuntungan dari omzet berjualan kaus ini kembali diraih, bahkan meningkat dari sebelumnya yaitu sekitar Rp9 juta per bulan dengan produksi sekitar 24 pcs di setiap desain yang dihadirkan.

“Pada posisi ini saya merasa pengusaha yang berhasil adalah pengusaha yang bisa bangkit dan berkembang maju kembali, ketika mereka runtuh,” ujarnya mantap.

Dia jugakembali melebarkan sayap usahanya dengan membuka Cihampelas Walk (Ciwalk) yang kerap ramai dikunjungi para wisatawan menjadi tempat tujuannya yang kedua setelah FO.

Agar bisa berjualan atau mengontrak sebuah ruang di tempat tersebutBen dikenakan biaya Rp500.000 per meter persegi untuk setiap bulannya. Namun, yang semakin memberatkan adalah biaya kontrak tersebut harus dibayar secara tentative dengan jangka watu minimal tiga tahun.

“Secara kami waktu itu seperti pengusaha kelas kadal yang baru lahir, bagaimana bayarnya itu jika kontrak tiga tahun?” ujarnya.

Keinginan besar untuk berjualan di tempat tersebutakhirnya membuat Ben memperoleh keringan pembiayaan sewa dengan kemungkinan sewa per bulan.

Berjalan waktu gerai pertamanya yang terletak di sebuah FO jalan Dago juga hanya mampu bertahan beberapa tahun saja karena kehilangan target pasar.

Perebutan pasar oleh-oleh di Kota Bandung, tidak hanya dirasakan Ben terhadap para pengusaha baju atau kaus, melainkan juga pada poduk lainnya seperti sepatu bahkan beragam kuliner yang menjadi andalan Kota Bandung.

Meskipun terkadang bisnis baru yang hadir di Kota Bandung tidak terbilang kuat dan fokus, hal tersebut bukan berarti dirinya memandang remeh para pelaku usaha yang ada di kota ini. “Banyak pengusaha yang sisi bisnisnya tidak kuat sehingga, hanya bertahan paling lama satu tahun, maka usaha tersebut akan tumbang.”

Ben dan Hanafi terus menghadirkan desain-desain baru yang unik dengan jumlah produksi yang beragam dari 36 pcs-150 pcs untuk setiap desain produk yang saat ini jual Rp125.000 per kausnya.

Tidak haya mengandalkan kaus, produk Mahanagari juga dimodifikasi dengan berbagai barang lainnya seperti pin, tas, dan gantungan kunci.

Ben mengungkapkan Mahanagari perusahaan yang menyajikan suatu produk spesial dan berbeda dengan produk lainnya karena di dedesain dengan hati. Mahanagari bukan sekedar hanya pedagang baju, melainkan juga menjadi satu jalan untuk menkampanyekan kecintaan pada kota.

Pada 2007, tour, event budaya, dan berbagai program lainnya seperti Kala Bandung atau timeline sejarah Kota Bandung sepanjang 50 meter juga berusaha ditampilkan Mahanagari.

“Kecintaan kita pada budaya atau sejarah sendiri itu tipis. Karena, akses menuju kesana sedikit dan butuh packaging bagus,” ujarnya.

Menurutnya, disinilah Maha Nagari hadir menjadi satu entitas sendiri yang mengedepankan budaya dan culture, meskipun butuh kekuatan tim yang solid dan tenaga ekstra. (k31/fsi)

Tag Terkait

Berikan Komentar

DISCLAIMER : Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BisnisJabar. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Catatan : Email anda tidak akan ditampilkan. Hanya Nama dan Komentar yang akan ditampilkan.

*

Baca Deh!

X