BANDUNG-Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat mendesak pemerintah menggenjot produksi buah lokal dan hortikultura lainnya, guna menangkis serangan impor yang masuk ke pasar domestik.
Ketua Harian HKTI Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan impor hortikultura memang harus dilakukan karena stok di pasar domestik sedang kurang.
“Mau tidak mau memang impor harus dilakukan. Namun hal ini jangan menjadi kebiasaan pemerintah jika stok kurang langsung memberlakukan keran impor tanpa mempertimbangkan nasib petani,” katanya kepada Bisnis, Selasa (25/2).
Menurutnya, sejak pemerintah membatasi kuota impor beberapa jenis buah dan produk sayuran, petani diberi peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Namun aturan itu masih sebatas teori yang belum diterapkan di lapangan.
HKTI menilai keran impor kembali dibuka bagi beberapa jenis hortikultura karena pemerintah tidak menguatkan sektor hulu hortikultura sebagai pemasok kebutuhan pasar domestik.
Padahal, lanjutnya, jika sektor hulu dikuatkan maka impor yang dilakukan tidak akan terjadi.
“Kami paham hal ini bukan persoalan mudah yang cepat diselesaikan. Akan tetapi, pemerintah bisa memulainya dari sekarang, jangan hanya mengandalkan kebijakan impor untuk mengatasi permintaan,” ungkap Entang.
Entang mengungkapkan petani di luar negeri mendapat perlindungan luar biasa dari pemerintahnya. Sebaliknya, di Indonesia para petani harus memperjuangkan nasib sendiri guna mempertahankan produksi mereka dari serangan impor.
Pihaknya juga mengeluhkan buruknya infrastruktur di daerah membuat beban biaya yang ditanggung petani cukup besar.
Apalagi, banyak produk pertanian yang butuh distribusi dalam waktu cepat.
“Hampir semua komoditas hortikultura harus diperdagangakan dengan keadaan segar. Namun dengan infrastruktur yang buruk akan memperburuk kualitas barang,” katanya.(k29)
Tentang Kami | Kebijakan Privasi | Kode Etik | Info Iklan
© 2010-2014. Bisnis Jabar. Bisnis Indonesia Perwakilan Jawa Barat.
Recent Comments